Tuesday, 20 May 2014
Refleksi G30S-PKI dan Jendela Politik 2014
Refleksi G30S-PKI dan Jendela Politik
2014
Sudah
68 tahun bangsa ini merdeka. Namun di perjalanan semua itu selalu menimbulkan
cerita, luka maupun duka. Mulai dulunya harus berhadapan penjajah yang hampir
ratusan tahun menyelemitu kelamnya sejarah bangsa ini. Tahun 1945 kian menjadi
tonggak sejarah baru bagi bangsa yang ber-asas Bhineka Tunggal Ika. Mulai dari
perang sampai pergulatan politik yang sungguh di luar kesadaran. Seolah hal itu
menjadi dinamika percaturan politik Negeri ini.
Lantas
siapa dalang di balik penumpasan tragedi G30S-PKI yang hingga sampai sekarang
ini belum terbukti pelakunya?? Sejak peristiwa detik-detik sebelum G30S-PKI.
Memang pertarungan politik di Negeri ini telah mencapai di luar klimaks.
Kekuasaan, persaingan politik dan hasrat saling benci sungguh melekat dalam
para elite politisi bangsa ini. Seolah Indonesia bagaikan lapangan yang
berumput kering, sehingga mudah sekali terbakarnya. Serta hal itu juga di
tunjang frontalnya media massa dalam memberikan informasi, sehingga menimbulkan
aksi saling kecam dan memperpanas suasana.
Hingga
datanglah peristiwa penumpasan itu. Mulai munculik dan membunuh para perwira
tinggi hingga perwira pertama. Serta hampir beberapa bulan, ratusan ribu orang
terbunuh dalam serangkaian peristiwa
ini. Tapi kalau di cermati peristiwa itu, seolah-olah peristiwa itu lahir dari
operasi militer yang sangat tersusun rapid an terencana. Lantas siapa dalang di balik semua itu? Hingga
sampai saat ini, genderang masalah ini belum tuntas mengungkap siapa pelakunya.
Hingga masyarakat saat ini hanya di buat seperti boneka yang kelam dari
peristiwa ini. Lalu apa hubungannya dengan Jendela Politik 2014? Masih
tersisanya orang-orang era Revolusioner dan Orde Baru dalam percaturan politik
kalin ini kian menjadi warna. Ataukah warna itu akan menjadi pelangi? Atau
hanya menjadi Abu?? Gong belum sempat dibunyikan. Tapi para Garuda bertopeng
sudah semakin nyata aroma politisnya. Mereka mengepung NKRI mulai dari barat
hingga timur. Bermodal tangan kanan uang dan tangan kiri media kian menjadikan
Garuda bertopeng itu leluasa.
Dan
yang pasti apapun yang diperbuat oleh Garuda bertopeng yang saat ini. mereka
harus ber-fastabiqul khoirot untuk Indonesia. Harus bisa merubah abu menjadi
pelangi. Meski sosok Garuda Sejati datang terlambat. Namun kedatangannya bukan
semerta di tutupi angin kekuasaan. Melainkan angin perubahan yang baik.
Dulu
memang pergulatan G30S-PKI. Menjadi wajah bangsa ini layu. Dan seharusnya para
Garuda Bertopeng itu harus merefleksikan peristiwa itu. Menjadi acuan subuah
progress yang cerah menjadi sosok Garuda Sejati. Sejauh ini memang Indonesia
memang dalam kondisi akut. Hal itu ditunjuang semakin parahnya korupsi yang
hampir tiap hari ada dan silih berganti.
Kalau
merubah Indonesia bukan harus dari luarnya? Atau perubahan dari dalamnya?
Perubahan semua harus dari semuanya. Kalau mayoritas kaum elite politis buta
huruf sejarah masa lampau Nusantara ini. Mesti tak ada ubahnya sama seperti
hari ini. mereka hanya bisa berpidato dan terus mencari uang recehan tanpa
mempedulikan rakyat. Rakyat yang menjadi tonggak bangsa. Kian disempitkan para
kaum elit politik yang hanya bisa nyanyi dan rapat saja. Kalau semacam ini
terjadi terus, pepatah jawa mikul duwor
mendhem jero mungkin menjadi asumsi semu. Dan pemerintah yang harusnya
mikul rakyat kini hanya bisa mikul janji yang kelam.
Semoga
para elit politisi sadar akan semua ini. Mereka itu mengabdi untuk rakyat bukan
untuk kepentingan pribadi. Sosok Garuda Sejati kian di tunggu rakyat di 2014
nanti. Untuk menjadi tonggak kemakmuran rakyat bukan tonggak kesengsaraan
rakyat. Dan Indonesia menjadi damai “rahmatan lil’alamin”
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Essai
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.














0 comments: