Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Wednesday, 11 June 2014

Widgets

Menengok Kisah Kiai Cebolek

Menengok Kisah Kiai Cebolek
Judul               : Suluk Kiai Cebolek “Dalam Konflik Keberagaman dan Kearifan Lokal”
Penulis             : Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin
Penerbit           : Prenada
Tebal Buku      : xvi + 300 halaman
Waktu Terbit   : Cetakan ke-1 Februari 2014

            Kiai Cebolek adalah sebutan untuk seorang ulama besar yang bernama Syekh Ahmad al-Mutamakkin. Seorang ulama yang hidup di kawasan Desa Cebolek atau kampung Cebolek Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dalam lingkup kajian sastra Jawa, nama daerah tersebut sudah diabadikan dalam sebuah Serat Cebolek. Yakni sebuah kitab yang memuat kisah-kisah yang bararoma keagamaan dan kekuasaan yang melibatkan sosok Syekh Ahmad al-Mutamakkin melawan kekuasaan kerajaan.
            Dalam buku ini penulis, mencoba memberikan pemaparan maupun representasi kisah-kisah Kiai Cebolek yang berdasarkan Serat Cebolek maupun suluk-sulu lainnya. Sehingga pembaca dapat melihat kemasyhuran sosok beliau.
            Kiai Cobolek diterima oleh masyarakat karena beliau menggunakan strategi yang arif, dengan menghormati khazanah tradisi lokal yang sudah berakar. Kebijaksanaan, kearifan, dan kedalaman wawasan keilmuan dan spritualitas Kiai Cebolek menyebabkan banyak kalangan ulama yang sezaman telah meyakininya sebagai salah satu dari golongan wali Allah.
            Ada tiga hal yang mempengaruhi kemasyhuran sosok beliau: Pertama, Kiai Cebolek menguasai ilmu-ilmu keislaman (syari’ah), bidang kalam, bidang fikih, dan bidang tasawuf. Kedua, Kiai Cebolek menguasai elemen-elemen kebudayaan lokal yang bersifat non-islam, khususnya kisah pewayangan (kisah Bima dan Dewa Ruci), dan memanfaatkan tradisi lokal itu sebagai medium untuk menyampaikan ajaran islam tanpa melanggar ketentuan syariat yang sudah dipahaminya. Ketiga, komitmen Kiai Cebolek pada gerakan cultural-kerakyatan dengan tiak terpengaruh ingar-bingar kekuasaan yang banyak menggoda para tokoh agama.
            Adapun konflik dalam buku ini dipaparkan dengan jelas. Bahwa konflik Kiai Cebolek dengan kekuasaan, menurut sebagai ahli sejarah ialah kekhawatiran dari penguasa bahwa ajaran Kiai Cebolek bisa membahayakan sistem kukuasaan yang ada. Serta kisah Dewa Ruci yang dijadikan Kiai Cebolek sebagai medium pembalajaran yang hal itu diyakini beberapa kalangan akan merusak ajaran agama Islam. Sehingga muncul fitnah-fitnah tentang Kiai Ceboleh dari kiai-kiai Kraton dengan sebutan Kiai sesat, karena telah merawat dua anjing.
            Selain itu, dalam buku ini disinggung juga perspektif Abudarahman Wahid mengenai Kiai Cebolek, bahwa gerakan Kiai Cebolek di akui sebagai gerakan “Pribumusasi Islam”. Sehingga kita bisa menengok cara-cara konsep “Pribumusasi Islam” itu sendiri lewat pandangan Kiai Cebolek. Pribumisasi yang diterapkan oleh Kiai Cebolek merupakan sebuah fase kesadaran ide, yakni kesadaran atau realisasi tentang gagasan yang mampu membentuk sikap dan kepribadinan individu yang direalisasikan dalam keimanan dan amal perbuatan.
            Apa yang dipaparkan dalam buku ini mengenai Kiai Cebolek. Semuanya bukan sekedar utopia, atau juga bukan sekedar definisi ideologis, sebab dakwah yang dilakukan Kiai Cebolek yakni menembus langsung dalam jantung eksistensial manusia, yakni totalitas manusia sebagai “sebaik-baik ciptaan”, melainkan dakwah yang  menyentuh semua aspek mulai dari amal perbuatan, pemikiran, kejiwaan, dan rohani itu sendiri.

Mengingat luasnya pengaruh ajaran dan kepribadinan Kiai Cebolek, buku ini lebih menitikberatkan pada kajian bagaimana prinsip personalitas Kiai Cebolek dapat menjawab problem psikis dan psikologis individu di tengah situasi konflik keberagaman dan kehidupan modern. Untuk itu dengan membaca buku karya Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin akan membawa kita mengenai kisah kemasyhuran maupun konflik dan kearifan Kiai Cebolek. Serta menengok kembali ajaran simbolis dari Kiai Cebolek melalui kisah Dewa Ruci dan ornamen-ornamen simbolis yang ada di Kajen atau “kampung Cebolek”. Dan mengetahui pandagan beragama melalui sosok Kiai Cebolek. 

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 comments:

Powered by Blogger.