Wednesday, 11 June 2014
Menengok Kisah Kiai Cebolek
Judul : Suluk Kiai Cebolek “Dalam
Konflik Keberagaman dan Kearifan Lokal”
Penulis : Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun
Tajuddin
Penerbit : Prenada
Tebal Buku : xvi + 300 halaman
Waktu Terbit : Cetakan ke-1 Februari 2014
Kiai Cebolek adalah sebutan untuk
seorang ulama besar yang bernama Syekh Ahmad al-Mutamakkin. Seorang ulama yang
hidup di kawasan Desa Cebolek atau kampung Cebolek Kecamatan Margoyoso
Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dalam lingkup kajian sastra Jawa, nama daerah tersebut
sudah diabadikan dalam sebuah Serat
Cebolek. Yakni sebuah kitab yang memuat kisah-kisah yang bararoma keagamaan
dan kekuasaan yang melibatkan sosok Syekh Ahmad al-Mutamakkin melawan kekuasaan
kerajaan.
Dalam buku ini penulis, mencoba
memberikan pemaparan maupun representasi kisah-kisah Kiai Cebolek yang
berdasarkan Serat Cebolek maupun
suluk-sulu lainnya. Sehingga pembaca dapat melihat kemasyhuran sosok beliau.
Kiai Cobolek diterima oleh
masyarakat karena beliau menggunakan strategi yang arif, dengan menghormati
khazanah tradisi lokal yang sudah berakar. Kebijaksanaan, kearifan, dan
kedalaman wawasan keilmuan dan spritualitas Kiai Cebolek menyebabkan banyak
kalangan ulama yang sezaman telah meyakininya sebagai salah satu dari golongan
wali Allah.
Ada tiga hal yang mempengaruhi
kemasyhuran sosok beliau: Pertama, Kiai Cebolek menguasai
ilmu-ilmu keislaman (syari’ah), bidang kalam, bidang fikih, dan bidang tasawuf.
Kedua,
Kiai Cebolek menguasai elemen-elemen kebudayaan lokal yang bersifat non-islam, khususnya
kisah pewayangan (kisah Bima dan Dewa Ruci), dan memanfaatkan tradisi lokal itu
sebagai medium untuk menyampaikan ajaran islam tanpa melanggar ketentuan
syariat yang sudah dipahaminya. Ketiga, komitmen Kiai Cebolek pada
gerakan cultural-kerakyatan dengan tiak terpengaruh ingar-bingar kekuasaan yang
banyak menggoda para tokoh agama.
Adapun konflik dalam buku ini
dipaparkan dengan jelas. Bahwa konflik Kiai Cebolek dengan kekuasaan, menurut
sebagai ahli sejarah ialah kekhawatiran dari penguasa bahwa ajaran Kiai Cebolek
bisa membahayakan sistem kukuasaan yang ada. Serta kisah Dewa Ruci yang
dijadikan Kiai Cebolek sebagai medium pembalajaran yang hal itu diyakini
beberapa kalangan akan merusak ajaran agama Islam. Sehingga muncul fitnah-fitnah
tentang Kiai Ceboleh dari kiai-kiai Kraton dengan sebutan Kiai sesat, karena
telah merawat dua anjing.
Selain itu, dalam buku ini
disinggung juga perspektif Abudarahman Wahid mengenai Kiai Cebolek, bahwa
gerakan Kiai Cebolek di akui sebagai gerakan “Pribumusasi Islam”. Sehingga kita
bisa menengok cara-cara konsep “Pribumusasi Islam” itu sendiri lewat pandangan
Kiai Cebolek. Pribumisasi yang diterapkan oleh Kiai Cebolek merupakan sebuah
fase kesadaran ide, yakni kesadaran atau realisasi tentang gagasan yang mampu
membentuk sikap dan kepribadinan individu yang direalisasikan dalam keimanan
dan amal perbuatan.
Apa yang dipaparkan dalam buku ini
mengenai Kiai Cebolek. Semuanya bukan sekedar utopia, atau juga bukan sekedar
definisi ideologis, sebab dakwah yang dilakukan Kiai Cebolek yakni menembus
langsung dalam jantung eksistensial manusia, yakni totalitas manusia sebagai
“sebaik-baik ciptaan”, melainkan dakwah yang
menyentuh semua aspek mulai dari amal perbuatan, pemikiran, kejiwaan,
dan rohani itu sendiri.
Mengingat
luasnya pengaruh ajaran dan kepribadinan Kiai Cebolek, buku ini lebih
menitikberatkan pada kajian bagaimana prinsip personalitas Kiai Cebolek dapat
menjawab problem psikis dan psikologis individu di tengah situasi konflik
keberagaman dan kehidupan modern. Untuk itu dengan membaca buku karya
Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin akan membawa kita mengenai kisah
kemasyhuran maupun konflik dan kearifan Kiai Cebolek. Serta menengok kembali
ajaran simbolis dari Kiai Cebolek melalui kisah Dewa Ruci dan ornamen-ornamen
simbolis yang ada di Kajen atau “kampung Cebolek”. Dan mengetahui pandagan
beragama melalui sosok Kiai Cebolek.
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Buku
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.














0 comments: