Wednesday, 14 May 2014
Demokrasi Asal-asalan
Demokrasi Asal-asalan
Negera
Indonesia sebagai komunitas imajinatif seperti yang telah ditanamkan oleh
pendiri bangsa dulu, yang selalu berlandasan Pancasila. Kini sudah jauh dari khitah pendahulunya. Negara yang
memiliki sejuta kekayaan. Kian berubah menjadi Negara yang tak tau arahnya. 69
tahun merdeka. Dan sempat menjadi Negara yang disegani di Dunia. Harus rela
menjadi Negara yang selalu di rampok oleh kepentingan asing maupun bangsanya
sendiri.
Kemana
arah masa depan Negara ini? Soekarno-Hatta dan lainnya memiliki langkah yang
sangat jelas. Mereka ingin Negeri ini bebas dari penjajahan. Dan mewujudkan
kemerdakaan bersama. Menegakkan nilai-nilai Pancasila serta mewujudkan Negeri
yang adil dan makmur. Semua sudah diterapkan para pendahulu kita.
Lantas bagaimana dengan sekarang? Kita baru
saja melaksanakan Pemilu Legislatif. Dan telah menatapkan PDI-P, Golkar dan
Gerindra sebagai pemenang tiga besar pemilihan kali ini. Namun kenyataannya
Pemilu kali jauh dari kebaikan. Alih-alih menegakkan demokrasi yang bersih dan
jujur sama sekali tidak berjalan dengan baik. Alhasil yang terlihat bagaikan
Demokrasi Asal-asalan.
Berdasarkan
pengamatan dan diskusi dengan sejumlah politikus, 30 persen dari 560 anggora
DPR 2014-2019, caleg yang terpilih merupakan orang yang hanya punya uang dan
popularitas. (Andar Nubowo, Kompas 26/4/2014). Ironis, melihat Politik uang
masih menamani berjalannya Pemilu kali ini. Bahkan hampir di setiap daerah
politik uang tidak bisa terpisahkan. Serta banyak caleg yang mendokrak namanya dengan
popularitasnya. Bahkan pula mendongkrak popularitas lewat nama orang tuanya. Hasilnya
rakyatpun memilih juga asal-asalan.
Juni
nanti Pemilihan Presiden akan di laksanakan. Kalau dilihat dari segi
penjadwalan. KPU terlalu singkat untuk menetapkan tenggang waktu Pemilihan
Presiden nantinya. Melihat kecurangan Pemilu Legislatif hampir di berbagai
daerah ada. Dan hal itu harusnya menjadi pertimbangan KPU untuk melanjutkan
Pemilihan Presiden nantinya. Sehingga tidak terlihat asal-asalan.
Minggu-minggu
ini. Para Partai politik telah menyiapkan berbagai cara. Hasilnya koalisi
partai akan terjadi untuk Pemilihan Presiden nantinya. Melihat catatan
partai-partai yang mendominasi pada Pemilu kali ini. Hampir berbagai partai
memiliki calon pemimpin yang bermasalah. Sehingga koalisi bisa dijadikan jalan
untuk menutup kekurangan dan celah pada Partai tersebut.
Alhasil
prinsip demokrasi majority rule akan
terus menjadi tirani kelompok besar. Serta wujud demokrasi yang berlandasan
kerakyatan yang dipimpin oleh kibijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
hanya sebagai landasan imjanatif semu. Sehingga nantinya, tujuan untuk
memberantas korupsi dengan baik. Serta mewujudkan rakyat yang sejahtera akan
sulit terpenuhi.
Serta
pada akhirnya rakyat akan terus menjadi tirani kolompok besar terhadap golongan
minoritas. Seperti halnya bola yang selalu dipermainkan. Ditendang kesana
kemari. Dilempar diberbagai arah. Bahkan di biarkan saja di berbagai sudut.
Karena ulah kelompok besar di tengah-tengah Demokrasi Asal-asalan ini. Sehingga
arah bangsa tidak semakin jelas. Dan sepatutnya generasi sekarang merupakan
generasi yang harus diputus. Di ganti oleh pemuda yang hebat. Yang mau berikrar
dengan semangat kebangsaan. Untuk berjanji kepada generasi mendatang, untuk
tidak meniru generasi sekarang. Dan menata arah bangsa yang jelas dan nyata. [Jogja, 26 April 2014]
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Essai
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.













0 comments: