Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Wednesday, 14 May 2014

Widgets

Demokrasi Asal-asalan

Demokrasi Asal-asalan

Negera Indonesia sebagai komunitas imajinatif seperti yang telah ditanamkan oleh pendiri bangsa dulu, yang selalu berlandasan Pancasila. Kini sudah jauh dari khitah pendahulunya. Negara yang memiliki sejuta kekayaan. Kian berubah menjadi Negara yang tak tau arahnya. 69 tahun merdeka. Dan sempat menjadi Negara yang disegani di Dunia. Harus rela menjadi Negara yang selalu di rampok oleh kepentingan asing maupun bangsanya sendiri.
Kemana arah masa depan Negara ini? Soekarno-Hatta dan lainnya memiliki langkah yang sangat jelas. Mereka ingin Negeri ini bebas dari penjajahan. Dan mewujudkan kemerdakaan bersama. Menegakkan nilai-nilai Pancasila serta mewujudkan Negeri yang adil dan makmur. Semua sudah diterapkan para pendahulu kita.
 Lantas bagaimana dengan sekarang? Kita baru saja melaksanakan Pemilu Legislatif. Dan telah menatapkan PDI-P, Golkar dan Gerindra sebagai pemenang tiga besar pemilihan kali ini. Namun kenyataannya Pemilu kali jauh dari kebaikan. Alih-alih menegakkan demokrasi yang bersih dan jujur sama sekali tidak berjalan dengan baik. Alhasil yang terlihat bagaikan Demokrasi Asal-asalan.
Berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan sejumlah politikus, 30 persen dari 560 anggora DPR 2014-2019, caleg yang terpilih merupakan orang yang hanya punya uang dan popularitas. (Andar Nubowo, Kompas 26/4/2014). Ironis, melihat Politik uang masih menamani berjalannya Pemilu kali ini. Bahkan hampir di setiap daerah politik uang tidak bisa terpisahkan. Serta banyak caleg yang mendokrak namanya dengan popularitasnya. Bahkan pula mendongkrak popularitas lewat nama orang tuanya. Hasilnya rakyatpun memilih juga asal-asalan.
Juni nanti Pemilihan Presiden akan di laksanakan. Kalau dilihat dari segi penjadwalan. KPU terlalu singkat untuk menetapkan tenggang waktu Pemilihan Presiden nantinya. Melihat kecurangan Pemilu Legislatif hampir di berbagai daerah ada. Dan hal itu harusnya menjadi pertimbangan KPU untuk melanjutkan Pemilihan Presiden nantinya. Sehingga tidak terlihat asal-asalan.
Minggu-minggu ini. Para Partai politik telah menyiapkan berbagai cara. Hasilnya koalisi partai akan terjadi untuk Pemilihan Presiden nantinya. Melihat catatan partai-partai yang mendominasi pada Pemilu kali ini. Hampir berbagai partai memiliki calon pemimpin yang bermasalah. Sehingga koalisi bisa dijadikan jalan untuk menutup kekurangan dan celah pada Partai tersebut.
Alhasil prinsip demokrasi majority rule akan terus menjadi tirani kelompok besar. Serta wujud demokrasi yang berlandasan kerakyatan yang dipimpin oleh kibijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan hanya sebagai landasan imjanatif semu. Sehingga nantinya, tujuan untuk memberantas korupsi dengan baik. Serta mewujudkan rakyat yang sejahtera akan sulit terpenuhi.
Serta pada akhirnya rakyat akan terus menjadi tirani kolompok besar terhadap golongan minoritas. Seperti halnya bola yang selalu dipermainkan. Ditendang kesana kemari. Dilempar diberbagai arah. Bahkan di biarkan saja di berbagai sudut. Karena ulah kelompok besar di tengah-tengah Demokrasi Asal-asalan ini. Sehingga arah bangsa tidak semakin jelas. Dan sepatutnya generasi sekarang merupakan generasi yang harus diputus. Di ganti oleh pemuda yang hebat. Yang mau berikrar dengan semangat kebangsaan. Untuk berjanji kepada generasi mendatang, untuk tidak meniru generasi sekarang. Dan menata arah bangsa yang jelas dan nyata.   [Jogja, 26 April 2014]


SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 comments:

Powered by Blogger.