Wednesday, 14 May 2014
Pendidikan Turun Tangan
Pendidikan Turun Tangan
Republik
ini dibangun dengan orang yang iuran, iuran tenaga, iuran pikiran, iuran nyawa
dan darah. Mari kita Turun Tangan! Begitulah statmen Anies Baswedan dalam
acara Debat Final Konvensi Partai Demokrat. Apapun permasalahan yang begitu
kronis yang melanda di negeri. Sudah sepatutnya harus dijadikan permasalahan
bersama. Saatnya kita iuran mengatasi permasalahan bersama.
Baru saja kita di hebohkan kasus
yang melanda pada pendidikan kita. Yaitu kasus seksual pada anak di sekolah
ternama Jakarta Intenationan School (JIS). Sungguh ironis meihat anak dibawah
umur menjadi korban seksual. Dan hal itu terjadi di sekolah tingkat
International. Yang di dalamnya menerapkan sistem kelas International serta
menjadi sekolah paling mahal di Indonesia. Akan tetapi bukan mutu pendidikan
yang diterapkan. Malahan kebodohan bagi seorang pendidik.
Kasus Jakarta International School
(JIS) harus bisa menjadi refleksi bagi setiap orang tua maupun para pemuda.
Sudah sepatutnya peristiwa semacam ini. Dijadikan refleksi untuk selalu “turun
tangan” mengawal sistem pendidikan negeri ini. Jangan hanya menjadi penikmat
pendidikan yang menjadikan kita dibodohi oleh sistem. Akan tetapi tanggap dan
berani “turun tangan” merawat, membangun dan memperbaiki sistem pendidikan
negeri ini. kesadaran-kesadaran sosial terhadap masyarakat harus tersalurkan.
Supaya orang tua tahu mana yang baik dan buru mengenai pendidikan di negeri
ini.
Pendidikan “turun tangan” harus bisa
menjadi alur kemajuan bangsa. Menyadarkan anak-anak, pemuda, maupun orang tua.
Untuk peduli bersama membangun dan merawat kembali pendidikan di negeri ini.
Negeri ini mempunyai kekayaan media untuk memperbaiki mutu pendidikan. Namun
sayangnya media sekarang hanya diisi oleh acara-acara yang kurang mendidik.
Mengajari anak goyang dangdut, percintaan remaja maupun melecehkan antar
manusia (bullying).
Maka semua hal itu dibutuhkan konsep
yang matang untuk mengatasi semua itu. Salah satu alternative untuk mengatasi
ialah dengan “turun tangan”. Orang tua harus punya kendali untuk membatasi anak
menikmati media massa. Mengenalkan mana yang baik dan buruk pada anak mengenai
dampak media massa. Serta mengajarkan moralitas pada anak agar nantinya
terdidik menjadi anak yang baik.
Akan tetapi siapa yang akan memberi
arahan mengenai semua itu, kalau orang tua sama sekali tidak tahu mengenai
masalah perkembangan pendidikan atau media? Pastinya pemuda atau mahasiswa.
Pemuda atau mahasiswa harus bisa “turun tangan”. Sadar mengenai hal itu. Sudah
sepatutnya “turun tangan” jangan hanya saling beropini kesana kemari tanpa tau
arahnya. Permasalahan pendidikan sangatlah kompleks. Kalau pemuda atau
mahasiswa tidak tanggan mengenai hal itu. Jangan berharap Indonesia akan bisa
berbenah.
Sekarang ini Indonesia hanya membutukan
orang yang berani iuran. Iuran rembuk (kepedulian) mengenai nasib bangsa ini.
Itulah cerminan bangsa yang baik. Pendidikan adalah senjata untuk melindungi
diri sendiri maupun orang lain. Kalau pendidikan kita tidak beres. Apa kau akan
menjadi orang yang merdeka. Maka turun tanganlah bersama. Untuk mengebalikan
nama garuda bangsa Indonesia.
Jogja, 28 April 2014
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Essai
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.













0 comments: