Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Tuesday, 28 October 2014

Widgets

Sumpah “Pemuda dan Santri”


Sumpah “Pemuda dan Santri”

            Baru saja kita menyaksikan keriuhan sumpah Presiden terpilih yakni Jokowi dan Jusuk Kalla. Dihadapan ribuan rakyat yang menyaksikan siaran televisi maupun ulasan media cetak dan lainnya, Presiden terpilih bersumpah akan memenuhi kewajiban sabagai Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Dengan begitu, itu akan menjadi beban berat bagi Presiden terlantik, karena ia telah bersumpah dihadapan Allah dan ribuan rakyat Indonesia.
            Ini akan menjadi awal dan langkah baru bagi Presiden terpilih. Dengan mengusung semangat dalam kabinetnya yakni “Kabinet, Kerja, Kerja, Kerja!” ini akan menjadi nilai tersendiri dihadapan rakyat. Rakyat yang selama ini telah menanti-nanti sosok pemimpin yang bukan hanya peduli akan nasib rakyatnya sendiri, namun juga sosok pemimpin yang mampu menanam benih dengan hasil buah yang memuaskan.
            Dalam falsafah jawa kita mengenal “Mikul duwor, Mendem jero”. Sehingga seorang pemimpin yang hebat harus tahu apa yang dijunjung tinggi dan apa yang harus ditanam dalam-dalam.  Meski nantinya akan menghadapi situasi serba kacau, mulai dari kenaikan harga BBM, kenaikan listrik dan sebagainya, pemimpin harus tetap memikul rakyat dengan aturan-aturannya yang bijak tanpa merugikan rakyat sepersen pun.

            Namun, demi memperjuangkan kemakmuran rakyat. Seorang pemimpin dan kabinet-kabinetnya pasti akan menemui jalan yang terjal dan suram. Pastinya peran pemuda sebagai agent of change sangat dibutuhkan untuk kemakmuran bersama. Pemuda harus bisa menjadi Spirit of Nation yang mampu menghadirkan perubahan dari berbagai sektor. Kalau kita meruntut sejarah pemuda dulunya. Kita tahu bagaimana peran pemuda dulunya dalam memperjuangakan kemerdekaan. Mereka saling bahu-membahu demi persatuan dan kemerdekaan Indonesia.
            Melihat Indonesia sekarang, pemuda harus mampu menegakkan pagar Indonesia yang sampai saat ini rubuh atau entah itu rusak.  Pagar yang pertama, ialah bagaimana pemuda mampu memagari dirinya dari kebodohan dan kemalasan. Kalau pagar kita sudah rusak, bagaimana kita bisa memagari bangsa ini? Bangsa kita sekarang membutuhkan pemikir besar yang mampu untuk mencipta berbagai lapangan kerja serta solusi-solusi yang mampu membebaskan dari jurang  hegemoni imperialisme, kolonialisme maupun kapitalisme.
            Pagar kedua yakni, pagar yang tidak pernah mampu terjamah oleh mata yaitu hukum dan aturan-aturan. Kalau mulai dari pemuda saja tidak bisa mengindahkan suatu hukum dan aturan-aturan. Lantas bagaimana dengan orang-orang tua kita yang kini duduk dengan setelan jas mewah yang bersemayam di gedung DPR? Sehingga hal ini harus dimulai dari yang dini sampai para pemuda untuk mengindahkan hukum dan aturan.
            Menilik sumpah Presiden yang terlantik sebelumnya. Bahwa ia akan memperjuangkan 1 Muharam untuk dijadikan hari santri Indonesia. Ini akan menjadi kebijakan yang patut kita tunggu ke depannya. Sekarang kita merayakan hari sumpah pemuda, tapi kenapa kita tak pernah merayakan hari santri? Setelah sekian lama peran santri di "hilang" kan dalam buku-buku sejarah. Serta arus pendidikan yang memandang rendah pendidikan santri,  dengan munculnya fakta sejarah yang selama ini seolah-olah santri hanya digambarkan sebgai kaum bersarung yang ndeso dan tak tau tatanan. Padahal peran santri untuk kemerdekaan Indonesia tak kalah jauh dari Sumpah Pemuda.
            Para kiai dan santri turut serta dalam perjuangan memerdekakan NKRI. Contoh ketika Bung Tomo meminta restu kepada Kiai Hasyim Asy'ari sebelum meletus peperangan 10 November 1945 dengan pasukan Inggris. Santri bersama pasukan sipin telah terlibat baku hantam dengan pasukan Inggris. Mereka merelakan nyawanya hanya untuk NKRI. Mempagari Indonesia untuk tidak dimasuki para pasukan Inggris.
            Sehingga kedudukan santri dengan pemuda pemudi Indonesia yang dulu mengikrarkan tanah air satu bangsa Indonesia harusnya sama. Diakui atau tidak hari santri. Hari sumpah pemuda dan hari santri itu harusnya sama. Meski datang pro kontra mengenai penetapan hari santri pada 1 Muharram. Pemerintah harus menetapkan hari untuk memperingati para pejuang santri.



Jogja, 25 Oktober 2014

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 comments:

Powered by Blogger.