Tuesday, 28 October 2014
Sumpah “Pemuda dan Santri”
Sumpah “Pemuda dan Santri”
Baru saja kita menyaksikan keriuhan
sumpah Presiden terpilih yakni Jokowi dan Jusuk Kalla. Dihadapan ribuan rakyat
yang menyaksikan siaran televisi maupun ulasan media cetak dan lainnya,
Presiden terpilih bersumpah akan memenuhi kewajiban sabagai Presiden Republik
Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Dengan begitu, itu akan
menjadi beban berat bagi Presiden terlantik, karena ia telah bersumpah
dihadapan Allah dan ribuan rakyat Indonesia.
Ini akan menjadi awal dan langkah
baru bagi Presiden terpilih. Dengan mengusung semangat dalam kabinetnya yakni “Kabinet, Kerja, Kerja, Kerja!” ini akan
menjadi nilai tersendiri dihadapan rakyat. Rakyat yang selama ini telah
menanti-nanti sosok pemimpin yang bukan hanya peduli akan nasib rakyatnya
sendiri, namun juga sosok pemimpin yang mampu menanam benih dengan hasil buah
yang memuaskan.
Dalam falsafah jawa kita mengenal “Mikul duwor, Mendem jero”. Sehingga
seorang pemimpin yang hebat harus tahu apa yang dijunjung tinggi dan apa yang
harus ditanam dalam-dalam. Meski
nantinya akan menghadapi situasi serba kacau, mulai dari kenaikan harga BBM,
kenaikan listrik dan sebagainya, pemimpin harus tetap memikul rakyat dengan
aturan-aturannya yang bijak tanpa merugikan rakyat sepersen pun.
Namun, demi memperjuangkan
kemakmuran rakyat. Seorang pemimpin dan kabinet-kabinetnya pasti akan menemui
jalan yang terjal dan suram. Pastinya peran pemuda sebagai agent of change sangat dibutuhkan untuk kemakmuran bersama. Pemuda
harus bisa menjadi Spirit of Nation yang
mampu menghadirkan perubahan dari berbagai sektor. Kalau kita meruntut sejarah
pemuda dulunya. Kita tahu bagaimana peran pemuda dulunya dalam memperjuangakan
kemerdekaan. Mereka saling bahu-membahu demi persatuan dan kemerdekaan
Indonesia.
Melihat Indonesia sekarang, pemuda
harus mampu menegakkan pagar Indonesia yang sampai saat ini rubuh atau entah itu
rusak. Pagar yang pertama, ialah
bagaimana pemuda mampu memagari dirinya dari kebodohan dan kemalasan. Kalau
pagar kita sudah rusak, bagaimana kita bisa memagari bangsa ini? Bangsa kita
sekarang membutuhkan pemikir besar yang mampu untuk mencipta berbagai lapangan
kerja serta solusi-solusi yang mampu membebaskan dari jurang hegemoni imperialisme, kolonialisme maupun
kapitalisme.
Pagar kedua yakni, pagar yang tidak
pernah mampu terjamah oleh mata yaitu hukum dan aturan-aturan. Kalau mulai dari
pemuda saja tidak bisa mengindahkan suatu hukum dan aturan-aturan. Lantas
bagaimana dengan orang-orang tua kita yang kini duduk dengan setelan jas mewah
yang bersemayam di gedung DPR? Sehingga hal ini harus dimulai dari yang dini
sampai para pemuda untuk mengindahkan hukum dan aturan.
Menilik sumpah Presiden yang
terlantik sebelumnya. Bahwa ia akan memperjuangkan 1 Muharam untuk dijadikan hari
santri Indonesia. Ini akan menjadi kebijakan yang patut kita tunggu ke
depannya. Sekarang kita merayakan hari sumpah pemuda, tapi kenapa kita tak
pernah merayakan hari santri? Setelah
sekian lama peran santri di "hilang" kan dalam buku-buku sejarah.
Serta arus pendidikan yang memandang rendah pendidikan santri, dengan
munculnya fakta
sejarah yang selama ini seolah-olah santri hanya digambarkan sebgai kaum
bersarung yang ndeso dan tak tau tatanan. Padahal peran santri untuk
kemerdekaan Indonesia tak kalah jauh dari Sumpah Pemuda.
Para kiai
dan santri turut serta dalam perjuangan memerdekakan NKRI. Contoh ketika Bung
Tomo meminta restu kepada Kiai Hasyim Asy'ari sebelum meletus peperangan 10
November 1945 dengan pasukan Inggris. Santri bersama pasukan sipin telah
terlibat baku hantam dengan pasukan Inggris. Mereka merelakan nyawanya hanya untuk
NKRI. Mempagari Indonesia untuk tidak dimasuki para pasukan Inggris.
Sehingga
kedudukan santri dengan pemuda pemudi Indonesia yang dulu mengikrarkan tanah
air satu bangsa Indonesia harusnya sama. Diakui atau tidak hari santri. Hari
sumpah pemuda dan hari santri itu harusnya sama. Meski datang pro kontra
mengenai penetapan hari santri pada 1 Muharram. Pemerintah harus menetapkan
hari untuk memperingati para pejuang santri.
Jogja, 25 Oktober 2014
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Essai
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.














0 comments: