Friday, 28 March 2014
Duka Cinta Indonesia
Duka
Cinta Indonesia
oleh: N Alfian A
Gunung Kelud meletus pada Kamis
(13/2) pukul 22.30 WIB. Gunung yang terletak di perbatasan Kabupataen Kediri
itu, telah mengeluarkan abu vulkanik hingga ke mana-mana. Solo, Yogyakarta,
Magelang, Purworejo merupakan salah diantara kota-kota yang terkene imbas abu
vulkanik. Hal itu membuat semua aktifitas masyarakat di kota itu lumpuh.
Apakah ini adzab, karena begitu lama
kita mengabdikan kebutaan dan ketulian kultural, yang membuat kita mirip dengan
orang-orang terdahulu? Atau apakah ini teguran di tengah-tengah penyakit bangsa
yang sudah di atas sewajarnya? Hanya dia (Allah) lah yang sepenuhnya tahu
jawabannya. Manusia hanya bisa meraba-raba maknanya. Tapi yang pasti, rahmatNya
selalu meliputi dan mendahului murkaNya.
Efek letusan Gunung Kelud memang
telah membuat resah semua orang. Dampaknya yang meluas ke mana-mana.
Menyebabkan segala akfitifitas gagal total. Hujan abu di berbagai kota membuat
semua orang ketakutan. Jalan-jalan sepi tidak seperti biasanya. Hiruk pikuk
tempat keramaian berubah drastis. Yang biasanya ramai, berubah menjadi sunyi.
Praktis hanya membuat orang termenung di dalam rumah.
Bencana terus datang bertaburan di
negeri ini. Gunung Sinabung, banjir, longsor hingga kini Gunung Kelud. Kian
menjadi warna kalau bangsa ini telah mendapat ujian. Cobaan terus berhamburan
bagai hujan abu yang berdebu. Namun Tuhan tidak akan mencintai hambaNya kalau ia
tidak memberi cobaan. Dan pastinya di semua cobaan pasti akan ada hikamah di
dalamnya.
Segala duka yang hinggap di balik
sebuah bencana. Harus di jadikan refleksi untuk berbenah diri, membuang jauh
kebutaan dan ketulian kultural yang mengakar di berbagai penjuru bangsa. Sadar
diri untuk terus berbuat kebaikan guna mendapat ampunan. Penyakit bangsa hingga
sampai detik ini belum terselesaikan. Seperti korupsi, narkoba, pergaulan bebas
remaja, seks bebas, perampokan dll. Dengan datang cobaan yang silih bergantian,
harusnya bisa menjadi acuan untuk melakukan perubahan.
Buta dan tuli itu merupakan penyakit
yang sangat vital. Apalagi kalau buta dan tuli dengan kaedah kultural. Para
pejabat dengan seenaknya korupsi, merampas jatah-jatah rakyat. Memainkan uang
kekuasaan dengan segala kemawahan. Tidak mempedulikan rakyat, yang notabennya
rakyat lah yang harus dijunjung dalam sebuah kenegaraan.
Tuhan menciptakan negeri ini dengan
sejuta kekayaan. Akan tetapi hanya sedikit orang yang bisa melihat. Gunung,
sawah, tambang, perkebunan. Merupakan contoh nyata dari sekian luasnya
belantara negeri ini yang di kasih oleh Tuhan. Akan tetapi, kebanyakan orang
merasa dirinya buta akan hal itu. Kurang kepedulian dalam melestarikan atau
merawat pemberianNya itu yang membuat sebagian orang buta. Malahan kaum-kaum
yang berkuasa, dengan enak dan gampangnya mereka menjual ke negara lain hasil
kekayaan negeri ini. Tambang dan hasil sawah, telah di jual mereka-mereka yang
memegang otoritas kekuasaan negeri ini.
Maka tidak salah kalau Tuhan
menurunkan cobaan. Tuhan masih mencintai bangsa ini. Segala kedukaan pasti akan
terselip rasa cinta. Di tengah kecintaan itu, harus menjadi refleksi. Untuk
menata bangsa ini dengan baik lagi. Mebuang jauh kebutaan dan ketulian
kultural. Guna mewujudkan kedamaian dan rasa cinta untuk Indonesia.
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Essai
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.














0 comments: