Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Friday, 28 March 2014

Widgets

Duka Cinta Indonesia

Duka Cinta Indonesia
oleh: N Alfian A

            Gunung Kelud meletus pada Kamis (13/2) pukul 22.30 WIB. Gunung yang terletak di perbatasan Kabupataen Kediri itu, telah mengeluarkan abu vulkanik hingga ke mana-mana. Solo, Yogyakarta, Magelang, Purworejo merupakan salah diantara kota-kota yang terkene imbas abu vulkanik. Hal itu membuat semua aktifitas masyarakat di kota itu lumpuh.
            Apakah ini adzab, karena begitu lama kita mengabdikan kebutaan dan ketulian kultural, yang membuat kita mirip dengan orang-orang terdahulu? Atau apakah ini teguran di tengah-tengah penyakit bangsa yang sudah di atas sewajarnya? Hanya dia (Allah) lah yang sepenuhnya tahu jawabannya. Manusia hanya bisa meraba-raba maknanya. Tapi yang pasti, rahmatNya selalu meliputi dan mendahului murkaNya.  
            Efek letusan Gunung Kelud memang telah membuat resah semua orang. Dampaknya yang meluas ke mana-mana. Menyebabkan segala akfitifitas gagal total. Hujan abu di berbagai kota membuat semua orang ketakutan. Jalan-jalan sepi tidak seperti biasanya. Hiruk pikuk tempat keramaian berubah drastis. Yang biasanya ramai, berubah menjadi sunyi. Praktis hanya membuat orang termenung di dalam rumah.
            Bencana terus datang bertaburan di negeri ini. Gunung Sinabung, banjir, longsor hingga kini Gunung Kelud. Kian menjadi warna kalau bangsa ini telah mendapat ujian. Cobaan terus berhamburan bagai hujan abu yang berdebu. Namun Tuhan tidak akan mencintai hambaNya kalau ia tidak memberi cobaan. Dan pastinya di semua cobaan pasti akan ada hikamah di dalamnya.
            Segala duka yang hinggap di balik sebuah bencana. Harus di jadikan refleksi untuk berbenah diri, membuang jauh kebutaan dan ketulian kultural yang mengakar di berbagai penjuru bangsa. Sadar diri untuk terus berbuat kebaikan guna mendapat ampunan. Penyakit bangsa hingga sampai detik ini belum terselesaikan. Seperti korupsi, narkoba, pergaulan bebas remaja, seks bebas, perampokan dll. Dengan datang cobaan yang silih bergantian, harusnya bisa menjadi acuan untuk melakukan perubahan.
            Buta dan tuli itu merupakan penyakit yang sangat vital. Apalagi kalau buta dan tuli dengan kaedah kultural. Para pejabat dengan seenaknya korupsi, merampas jatah-jatah rakyat. Memainkan uang kekuasaan dengan segala kemawahan. Tidak mempedulikan rakyat, yang notabennya rakyat lah yang harus dijunjung dalam sebuah kenegaraan.
            Tuhan menciptakan negeri ini dengan sejuta kekayaan. Akan tetapi hanya sedikit orang yang bisa melihat. Gunung, sawah, tambang, perkebunan. Merupakan contoh nyata dari sekian luasnya belantara negeri ini yang di kasih oleh Tuhan. Akan tetapi, kebanyakan orang merasa dirinya buta akan hal itu. Kurang kepedulian dalam melestarikan atau merawat pemberianNya itu yang membuat sebagian orang buta. Malahan kaum-kaum yang berkuasa, dengan enak dan gampangnya mereka menjual ke negara lain hasil kekayaan negeri ini. Tambang dan hasil sawah, telah di jual mereka-mereka yang memegang otoritas kekuasaan negeri ini.

            Maka tidak salah kalau Tuhan menurunkan cobaan. Tuhan masih mencintai bangsa ini. Segala kedukaan pasti akan terselip rasa cinta. Di tengah kecintaan itu, harus menjadi refleksi. Untuk menata bangsa ini dengan baik lagi. Mebuang jauh kebutaan dan ketulian kultural. Guna mewujudkan kedamaian dan rasa cinta untuk Indonesia. 

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 comments:

Powered by Blogger.