Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Friday, 28 March 2014

Widgets

Merindukan Amilum

Merindukan Amilum
oleh: N Alfian A

            Sore itu masih terlalu dini menyapaku. Terik sinarnya masih terlalu menyekat ke setiap rongga tubuhku. Keramain jalan Jogja-Solo semakin menambah keriuhan buat diriku. Beginilah kalau pulang kuliah sore hari. Keriuhan sepanjang jalan bagai seperti pesona kehidupan yang menawan. Sesak motor dan mobil di setiap hulu jalan kian menambah suguhan pemandangan. Ketelusuri jalan mulai dari kampus, hingga sampai ke kos aku di Tawangsari.
            Namun sebelumnya sampai ke kos aku. Aku tersipu melihat tiga remaja yang duduk di pos ronda sebelah kosku itu. Tiga remaja yang telah asik memainkan gitarnya. Yang satu mahir memainkan gitarnya. Dan yang dua pun tak kalah dengan suara lirihnya. Kupandangi dan kudungarkan saatku melintasi ketiga remaja itu. Mereka begitu kompak dan nampaknya sudah sangat akrab bertiganya. Petikan gitar dan lirihan suara ketiga remaja itu kian membuatku tersipu sesampainya di kamar kos. Mengingatkan aku pada sahabatku dulu kala masih berseragam sekolah.          
            Rasanya hati ini masih terngiang-ngiang ketika melihat ketiga remaja itu main gitar di pos ronda. Mengingatkan aku pada sahabat lamaku di sekolah. Aku bersama kedua sahabatku Irwan dan Kandes dulu memang gila tentang dunia musik. Memiliki perbedaan aliran mengenai aliran musik. Memiliki perbedaan selera musik pastinya. Tapi hal tak membuat kita saling bertengkar. Malahan pinginnya kelak punya band hebat dan bisa ngeband dengan baik. Hamper setiap pulang sekolah maupun hari-hari luang untuk di habiskan bersama main gitar. Atau bahkan pergi ke rental musik, untuk menyalurkan hasrat bisa bermain music seperti idola-idola kita.
            Entah kenapa saya dulu pingin bisa main musik dengan baik. Bisa main gitar dengan baik. Pingin bisa ngeband seperti musisi-musisi hebat kayak di negeri ini. Bisa main di panggung yang besar. Bisa ditonton banyak orang. Namun hingga kini keinginan itu belum bisa terwujud. Bisa bersatu dan terus bersama saja hal itu sudah sulit dengan realita sekarang ini. Memang, setelah lulus sekolah kita bertiga memang sudah kehilangan arah. Menentukan waktu berkumpul kalau di antara kita bisa pulang kampung atau liburan. Perbedaan kesibukan kita bertiga tidak bisa diganggu gugat. Saya dan irwan yang harus menempuh studi di Jogja, sedangkan Kandes menikmati pekerjaannya dengan anak dan istrinya.
            Aku sangat bangga dan kagum sama sahabatku Kandes. Sehabis sekolah dia sibuk mencari menafkah. Selang dua tahunnya. Dia berani untuk menikahi pacarnya yang dulu waktu masih sekolah. Hingga sampai sekarang ia sudah dikarunia oleh satu anak perempuan. Semangatnya untuk mencari nafkah guna kebutuhan sehari-hari akan tetapi ia masih bisa meluangkan untuk main musik. Hal itu berbanding terbalik dengan duniaku sekarang ini. Entah kenapa hasratku untuk main musik sekarang telah pudar dan sirna.
            Mungkin, seiring bertambahnya akal dan pikiran yang ku miliku membuatku jauh dari dunia musik. Bermain gitar yang dulu notabennya adalah penyejuk ketika ku suntuk, kini mulai terabaikan. Halusinasi kehidupan yang menuntunku ke arah dunia akademis. Kian menutup wajah halusinasi dunia aku di dunia musik. Bahkan selera musik atau aliran musikpun kini juga berubah. Ketika aku melihat Cak Nun dan Kiai Kanjeng, aku jadi pingin bisa main seperti Kiai Kanjeng. Kolaborasi musik tradisional dan modern, di tambah alunan musik berbagai genre dengan kemasan yang sangan menarik dan enak untuk didengar. Seolah aksi panggung Kiai Kanjeng itu bagai alunan musik yang fenomenal. Merubah status musik yang notabennya sebagai hiburan, kini berganti sarana spiritual dan kebudayaan.
            Hal itu yang membuat selera musik aku berubah. Yang dulunya pemuja musik pop. Kini berganti selera dengan musik yang cultural. Entah kenapa itu merubah selera saya untuk bermain musik. Hari-hariku kian jauh dengan musik. Buku-buku, teater atau bahkan diskusi atau ngopi di tempat warung kopi itu selalu aku alami sekarang.
            Bagi sekarang ini, bermain musik itu masa lalu dan menulis itu masa depan. Aku sebenarnya ingin bisa menulis dengan baik. Menginspirasi semua orang lewat tulisan. Lewat karya tulis dengan suguhan roman maupun sajak-sajak liar yang menggelitik hati seseorang. Bertambahnya akal semakin mengeratkan dengan masa depan. Akan dan pikiran itu langkah menuju masa depan. Masa depan yang cerah ditentukan oleh akal dan pikiran yang cerdas serta langkah yang baik. Tapi ketika ingin bermain musik aku selalu rindu sahabatku. Atau musik itu sahabat? Musik memang sahabat sejati. Tidak mendengarkan musik satu hari saja terasa hampa. Tapi kalau aku bermain musik tidak hamper satu haripun aku mainkan. Bahkan seminggu atau sebulun pun aku tak pernah main musik.
            Ketika ku main musik selalu teringat Amilum. Musik memang Amilum. Ia sudah melebur dalam satu komponen. Syair, lagu, irama seolah itulah jiwa Amilum. Amilum itu seperti pucuk tugu juga. Yang hingga kini pucuk tugu itu bisa ku menggapainya. Itu yang ada di Amilum hingga sekarang. Yang hingga sampai sekarang ini tidak bisa menggapai cita-cita Amilum.
            Saya masih teringat betul kata Amilum itu diambil. Amilum itu sendiri berasal dari bahasa latin senyawa dari kandungan pati/tepung. Ketika itu aku bersama kedua sahabatku pingin punya band. Dan dinamailah band itu dengan nama Amilum. Biar kelak bisa seperti pati/tepung yang memiliki sifat serbuk. Yang bisa mencair dengan segala realitas. Seperti halnya pati/tepung bisa di gunakan untuk bahan makanan.
            Amilum bukan halnya dengan musik. Persahabatan dan tali persaudaraan begitu erat di dalamnya. Seperti halnya syair, lagu dan irama dalam komponen musik. Dan hal itu tak bisa dipisahkan. Meski sekarang meski jarang selalu bersama. Dan gagal untuk mewujudkan cita-cita Amilum. Tapi aku sangat merindukan Amilum. Kopi di Angkringan Tugu ini hanya bisa membawakan kemanisan kisah Amilum. Canda, tawa, dan susahpun pernah di alami Amilum. Melihat pengamen di Angkringan Tugu mala ini, memainkan gitar dengan lagunya Iwan Fals. Membuatku semakin merindukan Amilum.
            Hamparan keriangan Kopi di Angkringan Tugu. Kian menambah rindu dengan Amilum. Pingin rasanya bisa bermain musik bareng lagi. Bernyanyi dengan iringan gitar di teras rumah. Ngeband bareng bertiga membain lagu-lagu klasik. Duhh sungguh enaknya ku membayanginnya dengan sruputan kopi yang bercampur susu. Menutup celotehan malam dengan kerinduan Amilum itu mengasikkan. Sekiranya musik bisa membangkitkan Amilum untuk bangkit. Walau hanya sekedar berkumpul saja itu bagai sebuah kebangkitan. Syukur-syukur bisa main musik bareng. Betapa indah dunia ini dengan musik. Dan Amilum itu bukan sekedar musik.
            Kututup malam dengan menyapa angin malam. Selamat malam Amilum. Semoga esuk mempertemukan….


Jogja, 13 Maret 2014

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 comments:

Powered by Blogger.