Friday, 28 March 2014
Merindukan Amilum
Merindukan
Amilum
oleh: N Alfian A
Sore itu masih terlalu dini
menyapaku. Terik sinarnya masih terlalu menyekat ke setiap rongga tubuhku.
Keramain jalan Jogja-Solo semakin menambah keriuhan buat diriku. Beginilah
kalau pulang kuliah sore hari. Keriuhan sepanjang jalan bagai seperti pesona kehidupan
yang menawan. Sesak motor dan mobil di setiap hulu jalan kian menambah suguhan
pemandangan. Ketelusuri jalan mulai dari kampus, hingga sampai ke kos aku di Tawangsari.
Namun sebelumnya sampai ke kos aku.
Aku tersipu melihat tiga remaja yang duduk di pos ronda sebelah kosku itu. Tiga
remaja yang telah asik memainkan gitarnya. Yang satu mahir memainkan gitarnya.
Dan yang dua pun tak kalah dengan suara lirihnya. Kupandangi dan kudungarkan
saatku melintasi ketiga remaja itu. Mereka begitu kompak dan nampaknya sudah
sangat akrab bertiganya. Petikan gitar dan lirihan suara ketiga remaja itu kian
membuatku tersipu sesampainya di kamar kos. Mengingatkan aku pada sahabatku
dulu kala masih berseragam sekolah.
Rasanya hati ini masih
terngiang-ngiang ketika melihat ketiga remaja itu main gitar di pos ronda.
Mengingatkan aku pada sahabat lamaku di sekolah. Aku bersama kedua sahabatku
Irwan dan Kandes dulu memang gila tentang dunia musik. Memiliki perbedaan
aliran mengenai aliran musik. Memiliki perbedaan selera musik pastinya. Tapi
hal tak membuat kita saling bertengkar. Malahan pinginnya kelak punya band
hebat dan bisa ngeband dengan baik. Hamper setiap pulang sekolah maupun
hari-hari luang untuk di habiskan bersama main gitar. Atau bahkan pergi ke
rental musik, untuk menyalurkan hasrat bisa bermain music seperti idola-idola
kita.
Entah kenapa saya dulu pingin bisa
main musik dengan baik. Bisa main gitar dengan baik. Pingin bisa ngeband
seperti musisi-musisi hebat kayak di negeri ini. Bisa main di panggung yang
besar. Bisa ditonton banyak orang. Namun hingga kini keinginan itu belum bisa
terwujud. Bisa bersatu dan terus bersama saja hal itu sudah sulit dengan
realita sekarang ini. Memang, setelah lulus sekolah kita bertiga memang sudah
kehilangan arah. Menentukan waktu berkumpul kalau di antara kita bisa pulang
kampung atau liburan. Perbedaan kesibukan kita bertiga tidak bisa diganggu
gugat. Saya dan irwan yang harus menempuh studi di Jogja, sedangkan Kandes
menikmati pekerjaannya dengan anak dan istrinya.
Aku sangat bangga dan kagum sama
sahabatku Kandes. Sehabis sekolah dia sibuk mencari menafkah. Selang dua
tahunnya. Dia berani untuk menikahi pacarnya yang dulu waktu masih sekolah.
Hingga sampai sekarang ia sudah dikarunia oleh satu anak perempuan. Semangatnya
untuk mencari nafkah guna kebutuhan sehari-hari akan tetapi ia masih bisa
meluangkan untuk main musik. Hal itu berbanding terbalik dengan duniaku
sekarang ini. Entah kenapa hasratku untuk main musik sekarang telah pudar dan
sirna.
Mungkin, seiring bertambahnya akal
dan pikiran yang ku miliku membuatku jauh dari dunia musik. Bermain gitar yang
dulu notabennya adalah penyejuk ketika ku suntuk, kini mulai terabaikan.
Halusinasi kehidupan yang menuntunku ke arah dunia akademis. Kian menutup wajah
halusinasi dunia aku di dunia musik. Bahkan selera musik atau aliran musikpun
kini juga berubah. Ketika aku melihat Cak Nun dan Kiai Kanjeng, aku jadi pingin
bisa main seperti Kiai Kanjeng. Kolaborasi musik tradisional dan modern, di
tambah alunan musik berbagai genre dengan kemasan yang sangan menarik dan enak
untuk didengar. Seolah aksi panggung Kiai Kanjeng itu bagai alunan musik yang
fenomenal. Merubah status musik yang notabennya sebagai hiburan, kini berganti
sarana spiritual dan kebudayaan.
Hal itu yang membuat selera musik
aku berubah. Yang dulunya pemuja musik pop. Kini berganti selera dengan musik
yang cultural. Entah kenapa itu merubah selera saya untuk bermain musik.
Hari-hariku kian jauh dengan musik. Buku-buku, teater atau bahkan diskusi atau
ngopi di tempat warung kopi itu selalu aku alami sekarang.
Bagi sekarang ini, bermain musik itu
masa lalu dan menulis itu masa depan. Aku sebenarnya ingin bisa menulis dengan
baik. Menginspirasi semua orang lewat tulisan. Lewat karya tulis dengan suguhan
roman maupun sajak-sajak liar yang menggelitik hati seseorang. Bertambahnya
akal semakin mengeratkan dengan masa depan. Akan dan pikiran itu langkah menuju
masa depan. Masa depan yang cerah ditentukan oleh akal dan pikiran yang cerdas
serta langkah yang baik. Tapi ketika ingin bermain musik aku selalu rindu
sahabatku. Atau musik itu sahabat? Musik memang sahabat sejati. Tidak
mendengarkan musik satu hari saja terasa hampa. Tapi kalau aku bermain musik
tidak hamper satu haripun aku mainkan. Bahkan seminggu atau sebulun pun aku tak
pernah main musik.
Ketika ku main musik selalu teringat
Amilum. Musik memang Amilum. Ia sudah melebur dalam satu komponen. Syair, lagu,
irama seolah itulah jiwa Amilum. Amilum itu seperti pucuk tugu juga. Yang
hingga kini pucuk tugu itu bisa ku menggapainya. Itu yang ada di Amilum hingga
sekarang. Yang hingga sampai sekarang ini tidak bisa menggapai cita-cita
Amilum.
Saya masih teringat betul kata
Amilum itu diambil. Amilum itu sendiri berasal dari bahasa latin senyawa dari
kandungan pati/tepung. Ketika itu aku bersama kedua sahabatku pingin punya
band. Dan dinamailah band itu dengan nama Amilum. Biar kelak bisa seperti pati/tepung
yang memiliki sifat serbuk. Yang bisa mencair dengan segala realitas. Seperti
halnya pati/tepung bisa di gunakan untuk bahan makanan.
Amilum bukan halnya dengan musik.
Persahabatan dan tali persaudaraan begitu erat di dalamnya. Seperti halnya syair,
lagu dan irama dalam komponen musik. Dan hal itu tak bisa dipisahkan. Meski
sekarang meski jarang selalu bersama. Dan gagal untuk mewujudkan cita-cita
Amilum. Tapi aku sangat merindukan Amilum. Kopi di Angkringan Tugu ini hanya
bisa membawakan kemanisan kisah Amilum. Canda, tawa, dan susahpun pernah di
alami Amilum. Melihat pengamen di Angkringan Tugu mala ini, memainkan gitar
dengan lagunya Iwan Fals. Membuatku semakin merindukan Amilum.
Hamparan keriangan Kopi di
Angkringan Tugu. Kian menambah rindu dengan Amilum. Pingin rasanya bisa bermain
musik bareng lagi. Bernyanyi dengan iringan gitar di teras rumah. Ngeband
bareng bertiga membain lagu-lagu klasik. Duhh sungguh enaknya ku membayanginnya
dengan sruputan kopi yang bercampur susu. Menutup celotehan malam dengan
kerinduan Amilum itu mengasikkan. Sekiranya musik bisa membangkitkan Amilum
untuk bangkit. Walau hanya sekedar berkumpul saja itu bagai sebuah kebangkitan.
Syukur-syukur bisa main musik bareng. Betapa indah dunia ini dengan musik. Dan
Amilum itu bukan sekedar musik.
Kututup malam dengan menyapa angin
malam. Selamat malam Amilum. Semoga esuk mempertemukan….
Jogja, 13 Maret
2014
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.













0 comments: