Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Tuesday, 28 October 2014

Sumpah “Pemuda dan Santri”


Sumpah “Pemuda dan Santri”

            Baru saja kita menyaksikan keriuhan sumpah Presiden terpilih yakni Jokowi dan Jusuk Kalla. Dihadapan ribuan rakyat yang menyaksikan siaran televisi maupun ulasan media cetak dan lainnya, Presiden terpilih bersumpah akan memenuhi kewajiban sabagai Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Dengan begitu, itu akan menjadi beban berat bagi Presiden terlantik, karena ia telah bersumpah dihadapan Allah dan ribuan rakyat Indonesia.
            Ini akan menjadi awal dan langkah baru bagi Presiden terpilih. Dengan mengusung semangat dalam kabinetnya yakni “Kabinet, Kerja, Kerja, Kerja!” ini akan menjadi nilai tersendiri dihadapan rakyat. Rakyat yang selama ini telah menanti-nanti sosok pemimpin yang bukan hanya peduli akan nasib rakyatnya sendiri, namun juga sosok pemimpin yang mampu menanam benih dengan hasil buah yang memuaskan.
            Dalam falsafah jawa kita mengenal “Mikul duwor, Mendem jero”. Sehingga seorang pemimpin yang hebat harus tahu apa yang dijunjung tinggi dan apa yang harus ditanam dalam-dalam.  Meski nantinya akan menghadapi situasi serba kacau, mulai dari kenaikan harga BBM, kenaikan listrik dan sebagainya, pemimpin harus tetap memikul rakyat dengan aturan-aturannya yang bijak tanpa merugikan rakyat sepersen pun.

Read More »

Wednesday, 11 June 2014

Menengok Kisah Kiai Cebolek

Menengok Kisah Kiai Cebolek
Judul               : Suluk Kiai Cebolek “Dalam Konflik Keberagaman dan Kearifan Lokal”
Penulis             : Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin
Penerbit           : Prenada
Tebal Buku      : xvi + 300 halaman
Waktu Terbit   : Cetakan ke-1 Februari 2014

            Kiai Cebolek adalah sebutan untuk seorang ulama besar yang bernama Syekh Ahmad al-Mutamakkin. Seorang ulama yang hidup di kawasan Desa Cebolek atau kampung Cebolek Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dalam lingkup kajian sastra Jawa, nama daerah tersebut sudah diabadikan dalam sebuah Serat Cebolek. Yakni sebuah kitab yang memuat kisah-kisah yang bararoma keagamaan dan kekuasaan yang melibatkan sosok Syekh Ahmad al-Mutamakkin melawan kekuasaan kerajaan.

Read More »

Thursday, 5 June 2014

Pers Beretika Tempo Kini

Pers Beretika Tempo Kini
oleh : N Alfian A (09-05-13)

Matinya pers komunis setelah gagalnya pengkhianatan G 30 S/PKI itu dengan cepat ditandai semaraknya warna pers yang anti PKI. Penghujatan, cemooh dan celaan terhadap apa yang telah dilakukan PKI sampai pada puncak pengkhianatannya tanggal 30 September 1965 mewarnai hampir setiap hari pemberitaan media pers yang sebelumnya bertahun-tahun berada dalam deraan teror dan tekanan PKI melalui media-media pers pendukungnya. Perjalanan pers Indonesia kembali memasuki babak baru, yang disebut sebagai “masa untuk membela, mendukung dan melaksanakan Pancasila”. Babak baru ini ditandai dengan disahkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers.
Di dalam Undang-undang yang disahkan pada tanggal 12 Desember 1966 oleh Presiden Soekarno itu dinyatakan secara tegas dan jelas Undang-undang tersebut dibuat dengan pertimbangan antaralain bahwa Pers Nasional harus merupakan pencerminan yang aktif dan kreatif daripada penghidupan dan kehidupan bangsa berdasarkan Demokrasi Pancasila; sesuai dengan asas Demokrasi Pancasila, pembinaan pers ada di tangan pemerintah bersama-sama dengan perwakilan pers; pers merupakan alat revolusi, alat sosial-kontrol, alat pendidik, alat penyalur dan pembentuk pendapat umum serta alat penggerak massa; pers Indonesia merupakan pengawal revolusi yang membawa darma untuk menyelenggarakan Demokrasi Pancasila secara aktif dan kreatif.

Read More »

Tuesday, 20 May 2014

Refleksi G30S-PKI dan Jendela Politik 2014

                                Pic: google.com

Refleksi G30S-PKI dan Jendela Politik 2014

Sudah 68 tahun bangsa ini merdeka. Namun di perjalanan semua itu selalu menimbulkan cerita, luka maupun duka. Mulai dulunya harus berhadapan penjajah yang hampir ratusan tahun menyelemitu kelamnya sejarah bangsa ini. Tahun 1945 kian menjadi tonggak sejarah baru bagi bangsa yang ber-asas Bhineka Tunggal Ika. Mulai dari perang sampai pergulatan politik yang sungguh di luar kesadaran. Seolah hal itu menjadi dinamika percaturan politik Negeri ini.
Lantas siapa dalang di balik penumpasan tragedi G30S-PKI yang hingga sampai sekarang ini belum terbukti pelakunya?? Sejak peristiwa detik-detik sebelum G30S-PKI. Memang pertarungan politik di Negeri ini telah mencapai di luar klimaks. Kekuasaan, persaingan politik dan hasrat saling benci sungguh melekat dalam para elite politisi bangsa ini. Seolah Indonesia bagaikan lapangan yang berumput kering, sehingga mudah sekali terbakarnya. Serta hal itu juga di tunjang frontalnya media massa dalam memberikan informasi, sehingga menimbulkan aksi saling kecam dan memperpanas suasana.

Read More »

Mencari Pendidikan

Mencari Pendidikan

Kemana harus kucari?
Orang-orang yang tulus mendidikku
Seperti ibu dan ayahku

Kemana harus kucari?
Ilmu-ilmu yang mampu merubah
Seluruh bangsa dan nasib negeri

Kemana harus kucari?
Pengajar-pangajar yang bersimpati
Mengajarkan ketulusan tanpa suatu janji

Kemana harus kucari?
Pendidikan yang berbudi
Tanpa harus menjadi pintar dan penuh benci

Kemana harus kucari?
Pendidikan yang mengajarkan cinta
Untuk menata nasib dan rakyat bangsa ini

Kemana harus kucari?
Bila pendidikan mengajarkan keunggulan
Tanpa mengajarkan kekalahan

Yogyakarta, 21 Mei 2014



Read More »

Wednesday, 14 May 2014

Media, Politik Perempuan dan Perubahan Sosial

Media, Politik Perempuan dan Perubahan Sosial

            Modernitas selalu membawa arus lika-liku kehidupan sekarang ini. Media memiliki andil yang sangat besar mengenai hal ini. Banyak perubahan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat. Merupakan hasil media effect itu sendiri. Masih kurang fairnya media itu dalam mengkonstruksi realitas. Hal itu juga memicu kurang seimbangnya media itu dalam memotret realitas yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Kali ini tim BUKIT akan menampilkan wawancara khusus mengenai Media, Politik Perempuan dan Perubahan Sosial bersama Alimatul Qibtiyah selaku aktifis PSW (Pusat Studi Wanita) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan demikian hasil uraian wawancaranya sebagai berikut:
Sekerang ini perempuan di media banyak dikonstruksikan dengan hal-hal yang negetif. Nah, bagaimana pendapat anda mengenai hal itu?
Memang beberapa media masih merekonstruksi perempuan sebagai objek. Disitu terjadi objektifikasi di iklan. Entah itu di iklan dengan body politiknya, bagaimana dia mempolitisi body perempuan itu untuk menjadi sesuatu makanan iklan yang itu menjadi sebuah daya tarik. Kalau kita belajar psikologi komunikasi kan kita tahu. Bahwa orang yang cantik itu dipersepsikan sebagai orang yang ramah, pintar, bicaranya lancar, maka dia menggunakan teori-teori itu untuk melakukan objektifikasi terhadap perempuan itu sendiri. Apalagi bukan hanya persoalan itu, tapi gender streotipe nya sering dimunculkan dalam perempuan, kalau perempuan tugasnya seperti ini. “Mana sih iklan yang menampilkan laki-laki itu tugasnya mencuci?” itu kan bukti kalau masih ada streotipe gender yang ada media sekarang ini dengan domestifkasi perempuan.
Apa langkah substansif buat perempuan itu sendiri mengenai hal tersebut?

Read More »

Demokrasi Asal-asalan

Demokrasi Asal-asalan

Negera Indonesia sebagai komunitas imajinatif seperti yang telah ditanamkan oleh pendiri bangsa dulu, yang selalu berlandasan Pancasila. Kini sudah jauh dari khitah pendahulunya. Negara yang memiliki sejuta kekayaan. Kian berubah menjadi Negara yang tak tau arahnya. 69 tahun merdeka. Dan sempat menjadi Negara yang disegani di Dunia. Harus rela menjadi Negara yang selalu di rampok oleh kepentingan asing maupun bangsanya sendiri.
Kemana arah masa depan Negara ini? Soekarno-Hatta dan lainnya memiliki langkah yang sangat jelas. Mereka ingin Negeri ini bebas dari penjajahan. Dan mewujudkan kemerdakaan bersama. Menegakkan nilai-nilai Pancasila serta mewujudkan Negeri yang adil dan makmur. Semua sudah diterapkan para pendahulu kita.
 Lantas bagaimana dengan sekarang? Kita baru saja melaksanakan Pemilu Legislatif. Dan telah menatapkan PDI-P, Golkar dan Gerindra sebagai pemenang tiga besar pemilihan kali ini. Namun kenyataannya Pemilu kali jauh dari kebaikan. Alih-alih menegakkan demokrasi yang bersih dan jujur sama sekali tidak berjalan dengan baik. Alhasil yang terlihat bagaikan Demokrasi Asal-asalan.

Read More »
Powered by Blogger.