Tuesday, 28 October 2014
Sumpah “Pemuda dan Santri”
Sumpah “Pemuda dan Santri”
Baru saja kita menyaksikan keriuhan
sumpah Presiden terpilih yakni Jokowi dan Jusuk Kalla. Dihadapan ribuan rakyat
yang menyaksikan siaran televisi maupun ulasan media cetak dan lainnya,
Presiden terpilih bersumpah akan memenuhi kewajiban sabagai Presiden Republik
Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Dengan begitu, itu akan
menjadi beban berat bagi Presiden terlantik, karena ia telah bersumpah
dihadapan Allah dan ribuan rakyat Indonesia.
Ini akan menjadi awal dan langkah
baru bagi Presiden terpilih. Dengan mengusung semangat dalam kabinetnya yakni “Kabinet, Kerja, Kerja, Kerja!” ini akan
menjadi nilai tersendiri dihadapan rakyat. Rakyat yang selama ini telah
menanti-nanti sosok pemimpin yang bukan hanya peduli akan nasib rakyatnya
sendiri, namun juga sosok pemimpin yang mampu menanam benih dengan hasil buah
yang memuaskan.
Dalam falsafah jawa kita mengenal “Mikul duwor, Mendem jero”. Sehingga
seorang pemimpin yang hebat harus tahu apa yang dijunjung tinggi dan apa yang
harus ditanam dalam-dalam. Meski
nantinya akan menghadapi situasi serba kacau, mulai dari kenaikan harga BBM,
kenaikan listrik dan sebagainya, pemimpin harus tetap memikul rakyat dengan
aturan-aturannya yang bijak tanpa merugikan rakyat sepersen pun.
Read More »
Labels:
Essai
Wednesday, 11 June 2014
Menengok Kisah Kiai Cebolek
Judul : Suluk Kiai Cebolek “Dalam
Konflik Keberagaman dan Kearifan Lokal”
Penulis : Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun
Tajuddin
Penerbit : Prenada
Tebal Buku : xvi + 300 halaman
Waktu Terbit : Cetakan ke-1 Februari 2014
Kiai Cebolek adalah sebutan untuk
seorang ulama besar yang bernama Syekh Ahmad al-Mutamakkin. Seorang ulama yang
hidup di kawasan Desa Cebolek atau kampung Cebolek Kecamatan Margoyoso
Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dalam lingkup kajian sastra Jawa, nama daerah tersebut
sudah diabadikan dalam sebuah Serat
Cebolek. Yakni sebuah kitab yang memuat kisah-kisah yang bararoma keagamaan
dan kekuasaan yang melibatkan sosok Syekh Ahmad al-Mutamakkin melawan kekuasaan
kerajaan.
Read More »
Labels:
Buku
Thursday, 5 June 2014
Pers Beretika Tempo Kini
Pers Beretika Tempo Kini
oleh
: N Alfian A (09-05-13)
Matinya
pers komunis setelah gagalnya pengkhianatan G 30 S/PKI itu dengan cepat
ditandai semaraknya warna pers yang anti PKI. Penghujatan, cemooh dan celaan
terhadap apa yang telah dilakukan PKI sampai pada puncak pengkhianatannya
tanggal 30 September 1965 mewarnai hampir setiap hari pemberitaan media pers
yang sebelumnya bertahun-tahun berada dalam deraan teror dan tekanan PKI
melalui media-media pers pendukungnya. Perjalanan pers Indonesia kembali
memasuki babak baru, yang disebut sebagai “masa untuk membela, mendukung dan
melaksanakan Pancasila”. Babak baru ini ditandai dengan disahkannya
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1966 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Pers.
Di
dalam Undang-undang yang disahkan pada tanggal 12 Desember 1966 oleh Presiden
Soekarno itu dinyatakan secara tegas dan jelas Undang-undang tersebut dibuat
dengan pertimbangan antaralain bahwa Pers Nasional harus merupakan pencerminan
yang aktif dan kreatif daripada penghidupan dan kehidupan bangsa berdasarkan
Demokrasi Pancasila; sesuai dengan asas Demokrasi Pancasila, pembinaan pers ada
di tangan pemerintah bersama-sama dengan perwakilan pers; pers merupakan alat
revolusi, alat sosial-kontrol, alat pendidik, alat penyalur dan pembentuk
pendapat umum serta alat penggerak massa; pers Indonesia merupakan pengawal
revolusi yang membawa darma untuk menyelenggarakan Demokrasi Pancasila secara
aktif dan kreatif.
Read More »
Labels:
Essai
Tuesday, 20 May 2014
Refleksi G30S-PKI dan Jendela Politik 2014
Refleksi G30S-PKI dan Jendela Politik
2014
Sudah
68 tahun bangsa ini merdeka. Namun di perjalanan semua itu selalu menimbulkan
cerita, luka maupun duka. Mulai dulunya harus berhadapan penjajah yang hampir
ratusan tahun menyelemitu kelamnya sejarah bangsa ini. Tahun 1945 kian menjadi
tonggak sejarah baru bagi bangsa yang ber-asas Bhineka Tunggal Ika. Mulai dari
perang sampai pergulatan politik yang sungguh di luar kesadaran. Seolah hal itu
menjadi dinamika percaturan politik Negeri ini.
Lantas
siapa dalang di balik penumpasan tragedi G30S-PKI yang hingga sampai sekarang
ini belum terbukti pelakunya?? Sejak peristiwa detik-detik sebelum G30S-PKI.
Memang pertarungan politik di Negeri ini telah mencapai di luar klimaks.
Kekuasaan, persaingan politik dan hasrat saling benci sungguh melekat dalam
para elite politisi bangsa ini. Seolah Indonesia bagaikan lapangan yang
berumput kering, sehingga mudah sekali terbakarnya. Serta hal itu juga di
tunjang frontalnya media massa dalam memberikan informasi, sehingga menimbulkan
aksi saling kecam dan memperpanas suasana.
Read More »
Labels:
Essai
Mencari Pendidikan
Mencari Pendidikan
Kemana harus kucari?
Orang-orang yang tulus mendidikku
Seperti ibu dan ayahku
Kemana harus kucari?
Ilmu-ilmu yang mampu merubah
Seluruh bangsa dan nasib negeri
Kemana harus kucari?
Pengajar-pangajar yang bersimpati
Mengajarkan ketulusan tanpa suatu
janji
Kemana harus kucari?
Pendidikan yang berbudi
Tanpa harus menjadi pintar dan
penuh benci
Kemana harus kucari?
Pendidikan yang mengajarkan cinta
Untuk menata nasib dan rakyat
bangsa ini
Kemana harus kucari?
Bila pendidikan mengajarkan
keunggulan
Tanpa mengajarkan kekalahan
Yogyakarta, 21 Mei 2014
Read More »
Labels:
Puisi
Wednesday, 14 May 2014
Media, Politik Perempuan dan Perubahan Sosial
Media, Politik Perempuan dan
Perubahan Sosial
Modernitas selalu membawa arus
lika-liku kehidupan sekarang ini. Media memiliki andil yang sangat besar
mengenai hal ini. Banyak perubahan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat.
Merupakan hasil media effect itu sendiri. Masih kurang fairnya media itu dalam
mengkonstruksi realitas. Hal itu juga memicu kurang seimbangnya media itu dalam
memotret realitas yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Kali ini tim BUKIT
akan menampilkan wawancara khusus mengenai Media,
Politik Perempuan dan Perubahan Sosial bersama Alimatul Qibtiyah selaku
aktifis PSW (Pusat Studi Wanita) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan demikian
hasil uraian wawancaranya sebagai berikut:
Sekerang
ini perempuan di media banyak dikonstruksikan dengan hal-hal yang negetif. Nah,
bagaimana pendapat anda mengenai hal itu?
Memang beberapa
media masih merekonstruksi perempuan sebagai objek. Disitu terjadi
objektifikasi di iklan. Entah itu di iklan dengan body politiknya, bagaimana
dia mempolitisi body perempuan itu untuk menjadi sesuatu makanan iklan yang itu
menjadi sebuah daya tarik. Kalau kita belajar psikologi komunikasi kan kita
tahu. Bahwa orang yang cantik itu dipersepsikan sebagai orang yang ramah,
pintar, bicaranya lancar, maka dia menggunakan teori-teori itu untuk melakukan
objektifikasi terhadap perempuan itu sendiri. Apalagi bukan hanya persoalan
itu, tapi gender streotipe nya sering dimunculkan dalam perempuan, kalau
perempuan tugasnya seperti ini. “Mana sih iklan yang menampilkan laki-laki itu
tugasnya mencuci?” itu kan bukti kalau masih ada streotipe gender yang ada
media sekarang ini dengan domestifkasi perempuan.
Apa
langkah substansif buat perempuan itu sendiri mengenai hal tersebut?
Read More »
Labels:
Berita
Demokrasi Asal-asalan
Demokrasi Asal-asalan
Negera
Indonesia sebagai komunitas imajinatif seperti yang telah ditanamkan oleh
pendiri bangsa dulu, yang selalu berlandasan Pancasila. Kini sudah jauh dari khitah pendahulunya. Negara yang
memiliki sejuta kekayaan. Kian berubah menjadi Negara yang tak tau arahnya. 69
tahun merdeka. Dan sempat menjadi Negara yang disegani di Dunia. Harus rela
menjadi Negara yang selalu di rampok oleh kepentingan asing maupun bangsanya
sendiri.
Kemana
arah masa depan Negara ini? Soekarno-Hatta dan lainnya memiliki langkah yang
sangat jelas. Mereka ingin Negeri ini bebas dari penjajahan. Dan mewujudkan
kemerdakaan bersama. Menegakkan nilai-nilai Pancasila serta mewujudkan Negeri
yang adil dan makmur. Semua sudah diterapkan para pendahulu kita.
Lantas bagaimana dengan sekarang? Kita baru
saja melaksanakan Pemilu Legislatif. Dan telah menatapkan PDI-P, Golkar dan
Gerindra sebagai pemenang tiga besar pemilihan kali ini. Namun kenyataannya
Pemilu kali jauh dari kebaikan. Alih-alih menegakkan demokrasi yang bersih dan
jujur sama sekali tidak berjalan dengan baik. Alhasil yang terlihat bagaikan
Demokrasi Asal-asalan.
Read More »
Labels:
Essai
Subscribe to:
Posts (Atom)
Powered by Blogger.




