Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Wednesday, 14 May 2014

Widgets

Media, Politik Perempuan dan Perubahan Sosial

Media, Politik Perempuan dan Perubahan Sosial

            Modernitas selalu membawa arus lika-liku kehidupan sekarang ini. Media memiliki andil yang sangat besar mengenai hal ini. Banyak perubahan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat. Merupakan hasil media effect itu sendiri. Masih kurang fairnya media itu dalam mengkonstruksi realitas. Hal itu juga memicu kurang seimbangnya media itu dalam memotret realitas yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Kali ini tim BUKIT akan menampilkan wawancara khusus mengenai Media, Politik Perempuan dan Perubahan Sosial bersama Alimatul Qibtiyah selaku aktifis PSW (Pusat Studi Wanita) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan demikian hasil uraian wawancaranya sebagai berikut:
Sekerang ini perempuan di media banyak dikonstruksikan dengan hal-hal yang negetif. Nah, bagaimana pendapat anda mengenai hal itu?
Memang beberapa media masih merekonstruksi perempuan sebagai objek. Disitu terjadi objektifikasi di iklan. Entah itu di iklan dengan body politiknya, bagaimana dia mempolitisi body perempuan itu untuk menjadi sesuatu makanan iklan yang itu menjadi sebuah daya tarik. Kalau kita belajar psikologi komunikasi kan kita tahu. Bahwa orang yang cantik itu dipersepsikan sebagai orang yang ramah, pintar, bicaranya lancar, maka dia menggunakan teori-teori itu untuk melakukan objektifikasi terhadap perempuan itu sendiri. Apalagi bukan hanya persoalan itu, tapi gender streotipe nya sering dimunculkan dalam perempuan, kalau perempuan tugasnya seperti ini. “Mana sih iklan yang menampilkan laki-laki itu tugasnya mencuci?” itu kan bukti kalau masih ada streotipe gender yang ada media sekarang ini dengan domestifkasi perempuan.
Apa langkah substansif buat perempuan itu sendiri mengenai hal tersebut?
Bagi pelaku media, media harus fair.  Bahwa media itu kan fungsinya memotret realitas. Kalau realitasnya juga banyak laki-laki yang sering mencuci, kenapa itu kok tidak potret. Sehingga pelaku media harus ada kesadaran tentang perubahan sosial sekarang ini.  Sehingga fungsi media sebagai pengungkap realitas itu akan benar fungsinya.
Banyak fenomena perubahan sosial sekarang ini karena media effect itu sendiri. Misalnya, fenomena cabe-cabean yang sedang berkembang di Jakarta. Itukan contoh negativ perubahan sosial sekarang ini. Bagaimana remaja sekarang ini bisa menyikapi hal itu?
Perlu adanya media letarasi untuk remaja yang mencoba untuk mengarahkan mereka. Bahwa kamu itu punya jatidiri sendiri, punya culture sendiri, punya norma-norma sendiri. Yang itu jangan di lupakan. Serta perlu adanya filter dalam media itu sendiri. Sehingga kesadaran-kesadaran untuk melek terhadap media itu ada. Sekarang ini media yang mudah diakses. Sepereti, facebook, tv, radio, atau pun di Hp sehingg gampang sekali untuk di akses. Tidak dengan kemana-mana media sudah bisa mempengaruhinya. Sehingga harus kembali lagi ke literasi media itu sendiri terhadap remaja sekarang.  sehinga bisa menularkan pengetahuan tentang media yang baik,  informasi apa yang perlu dicontoh, serta informasi apa yang tidak perlu dicontoh.  Sehingga jatidiri remaja bisa terbangun sesuai dengan apa yang seharusnya ia lakukan dengan baik.
Namun kenyataanya. Sekarang ini media literasi itu masih  minim gerakan. Sehingga gerakan media literasi susah untuk diterapkan dengan baik. Langkah apa supaya media litarasi itu bisa diterapkan dengan baik?
Secara culture, kita itu banyak media yang ada di masyarakat sekarang ini. Untuk melakukan sosialisasi itu.  Contohnya saja, DASAWISMA itu setiap bulan ketemu, PKK setiap bulan ketemu, setiap jumat orang khotbah di masjid, pengajian satu minggu pasti ada di masjid.  Itu kan sama halnya media-media. Sehingga hal seperti itu bisa untuk dijadikan sosialisasi mengenai media literasi tersebut. Dan nantinya tidak membiarkan remaja bergerak tanpa arahan orang tua. Karena remaja sekarang itu, merupakan makhluk yang sangat membutuhkan arahan.
Apa sudah seharusnya Pemerintah menerapkan kegiatan media literasi dengan baik?
Seadanya ada program dari pemerintah. Mungkin itu sifatnya hanya sebatas sporadis tidak sistemis. Tidak terbangun secara sistematis. Contohnya saja. Menkominfo kerjasama sama aktifis mahasiswa untuk kegiatan media literasi. Itu kan sangat bagus. Sehingg itu kan lebih sestematis. Karena aktifis mahasiswa kan punya massa sehingga kajian dan kegiatan media literasi itu tersalurkan dengan baik. Tapi hal masih belum terbangun dengan baik di kalangan Pemerintah sekarang ini.
Mengenai Politik Perempuan. Bagaimana langkah-langkah poltik perempuan yang baik yang harus diterapakan sekarang ini?
Sistem politik Indonesia sekarang ini kan banyak persoalan. Sehingga untuk menjadi pemipin di ranah politik, perempuan berkualitas itu tidak cukup. Akan tetapi perempuan berkualitas dan punya uang. Karena setiap harus bertindak pastinya butuh. Walaupun itu ada gerakan politik tanpa uang dari gerakan-gerakan perempuan. Di jogja saja sekarang ini DPR RI saja tidak ada perempuan, karena yang nomer 1 dan 2 itu laki-laki. Sehingga kesadaran politik perempuan harus ditingkatkan. Serta politik laki-laki harus memberi ruang pada perempuan. Untuk berkiprah di ranah politik.
Melihat kiprah politik perempuan yang sekarang ini. Banyak politik perempuan yang terlibat kasus perselingkuhan dan perceraian. Mengapa hal itu sering terjadi pada politik perempuan? Bagaimana pendapat anda mengenai hal itu?
Hal itu juga kami sayangkan. Namun yang kita harapkan. Semakin banyaknya parlemen perempuan itu di sana. Itu kan mewakili politik feminim bukan politik maskulin. Politik maskulin itu kan selingkuh, korupsi itu kan contoh politik maskulin. Kalau kita persentasi. Berapa politik perempuan yang terlibat korupsi dengan politik laki-laki yang terlibat korupsi. Pastinya kan lebih banyak laki-laki. Padahal diberbagai pertemuan aktifis perempuan kita selalu mendeklarasikan “No Money” politik.
Menyambut hari Kartini. Apakah peran perempuan sudah relevan terhadap perubahan sosial sekarang ini? Terus apa harapannya?
Satu harus bisa menjadi dirinya sendiri untuk mewujudkan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Dengan berbagai macam cara. Dengan meng-upgrade atau meng-update pengetahuan yang ia punya. Serta menjaga culture yang ada. Tetaplah menjadi perempuan yang biasa. Dan tetep mengedepankan kepedulian mengenai hal anak dan perempuan itu sendiri. Sehingga mimpi para pejuang wanita dulunya bisa menjadi terwujud.
Terus yang terakhir. Apa pesan-pesan buat mahasiswa-mahasiswi sekarang ini, untuk menyikapi problema realitas sekarang ini?
Untuk mahasiswi di kampus. Kita harus bisa membangun jati diri yang kita miliki. Mumpung masih ada di Jogja, manfaatkan lah diri kalian untuk sebaik mungkin. Punyalah mimpi untuk meraih kesuksesan. Walaupun anda sepintar apapun teruslah saling menghormati antar manusia.
Untuk mahasiswanya. Jadilah laki-laki yang baru. Jadilah lak-laki yang ideal. Yang bisa menjunjung nila-nilai perempuan dan menghormati perempuan dengan baik. [fian]

Di muat di BUKIT Edisi #7





SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 comments:

Powered by Blogger.