Wednesday, 14 May 2014
Media, Politik Perempuan dan Perubahan Sosial
Media, Politik Perempuan dan
Perubahan Sosial
Modernitas selalu membawa arus
lika-liku kehidupan sekarang ini. Media memiliki andil yang sangat besar
mengenai hal ini. Banyak perubahan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat.
Merupakan hasil media effect itu sendiri. Masih kurang fairnya media itu dalam
mengkonstruksi realitas. Hal itu juga memicu kurang seimbangnya media itu dalam
memotret realitas yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Kali ini tim BUKIT
akan menampilkan wawancara khusus mengenai Media,
Politik Perempuan dan Perubahan Sosial bersama Alimatul Qibtiyah selaku
aktifis PSW (Pusat Studi Wanita) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dan demikian
hasil uraian wawancaranya sebagai berikut:
Sekerang
ini perempuan di media banyak dikonstruksikan dengan hal-hal yang negetif. Nah,
bagaimana pendapat anda mengenai hal itu?
Memang beberapa
media masih merekonstruksi perempuan sebagai objek. Disitu terjadi
objektifikasi di iklan. Entah itu di iklan dengan body politiknya, bagaimana
dia mempolitisi body perempuan itu untuk menjadi sesuatu makanan iklan yang itu
menjadi sebuah daya tarik. Kalau kita belajar psikologi komunikasi kan kita
tahu. Bahwa orang yang cantik itu dipersepsikan sebagai orang yang ramah,
pintar, bicaranya lancar, maka dia menggunakan teori-teori itu untuk melakukan
objektifikasi terhadap perempuan itu sendiri. Apalagi bukan hanya persoalan
itu, tapi gender streotipe nya sering dimunculkan dalam perempuan, kalau
perempuan tugasnya seperti ini. “Mana sih iklan yang menampilkan laki-laki itu
tugasnya mencuci?” itu kan bukti kalau masih ada streotipe gender yang ada
media sekarang ini dengan domestifkasi perempuan.
Bagi pelaku
media, media harus fair. Bahwa media itu
kan fungsinya memotret realitas. Kalau realitasnya juga banyak laki-laki yang
sering mencuci, kenapa itu kok tidak potret. Sehingga pelaku media harus ada
kesadaran tentang perubahan sosial sekarang ini. Sehingga fungsi media sebagai pengungkap
realitas itu akan benar fungsinya.
Banyak
fenomena perubahan sosial sekarang ini karena media effect itu sendiri.
Misalnya, fenomena cabe-cabean yang sedang berkembang di Jakarta. Itukan contoh
negativ perubahan sosial sekarang ini. Bagaimana remaja sekarang ini bisa
menyikapi hal itu?
Perlu adanya
media letarasi untuk remaja yang mencoba untuk mengarahkan mereka. Bahwa kamu
itu punya jatidiri sendiri, punya culture sendiri, punya norma-norma sendiri.
Yang itu jangan di lupakan. Serta perlu adanya filter dalam media itu sendiri.
Sehingga kesadaran-kesadaran untuk melek terhadap media itu ada. Sekarang ini
media yang mudah diakses. Sepereti, facebook, tv, radio, atau pun di Hp sehingg
gampang sekali untuk di akses. Tidak dengan kemana-mana media sudah bisa
mempengaruhinya. Sehingga harus kembali lagi ke literasi media itu sendiri
terhadap remaja sekarang. sehinga bisa
menularkan pengetahuan tentang media yang baik,
informasi apa yang perlu dicontoh, serta informasi apa yang tidak perlu
dicontoh. Sehingga jatidiri remaja bisa
terbangun sesuai dengan apa yang seharusnya ia lakukan dengan baik.
Namun
kenyataanya. Sekarang ini media literasi itu masih minim gerakan. Sehingga gerakan media
literasi susah untuk diterapkan dengan baik. Langkah apa supaya media litarasi
itu bisa diterapkan dengan baik?
Secara culture,
kita itu banyak media yang ada di masyarakat sekarang ini. Untuk melakukan
sosialisasi itu. Contohnya saja,
DASAWISMA itu setiap bulan ketemu, PKK setiap bulan ketemu, setiap jumat orang
khotbah di masjid, pengajian satu minggu pasti ada di masjid. Itu kan sama halnya media-media. Sehingga hal
seperti itu bisa untuk dijadikan sosialisasi mengenai media literasi tersebut.
Dan nantinya tidak membiarkan remaja bergerak tanpa arahan orang tua. Karena
remaja sekarang itu, merupakan makhluk yang sangat membutuhkan arahan.
Apa
sudah seharusnya Pemerintah menerapkan kegiatan media literasi dengan baik?
Seadanya ada
program dari pemerintah. Mungkin itu sifatnya hanya sebatas sporadis tidak
sistemis. Tidak terbangun secara sistematis. Contohnya saja. Menkominfo
kerjasama sama aktifis mahasiswa untuk kegiatan media literasi. Itu kan sangat
bagus. Sehingg itu kan lebih sestematis. Karena aktifis mahasiswa kan punya
massa sehingga kajian dan kegiatan media literasi itu tersalurkan dengan baik. Tapi
hal masih belum terbangun dengan baik di kalangan Pemerintah sekarang ini.
Mengenai
Politik Perempuan. Bagaimana langkah-langkah poltik perempuan yang baik yang
harus diterapakan sekarang ini?
Sistem politik
Indonesia sekarang ini kan banyak persoalan. Sehingga untuk menjadi pemipin di
ranah politik, perempuan berkualitas itu tidak cukup. Akan tetapi perempuan
berkualitas dan punya uang. Karena setiap harus bertindak pastinya butuh.
Walaupun itu ada gerakan politik tanpa uang dari gerakan-gerakan perempuan. Di
jogja saja sekarang ini DPR RI saja tidak ada perempuan, karena yang nomer 1
dan 2 itu laki-laki. Sehingga kesadaran politik perempuan harus ditingkatkan.
Serta politik laki-laki harus memberi ruang pada perempuan. Untuk berkiprah di
ranah politik.
Melihat
kiprah politik perempuan yang sekarang ini. Banyak politik perempuan yang
terlibat kasus perselingkuhan dan perceraian. Mengapa hal itu sering terjadi
pada politik perempuan? Bagaimana pendapat anda mengenai hal itu?
Hal itu juga
kami sayangkan. Namun yang kita harapkan. Semakin banyaknya parlemen perempuan
itu di sana. Itu kan mewakili politik feminim bukan politik maskulin. Politik
maskulin itu kan selingkuh, korupsi itu kan contoh politik maskulin. Kalau kita
persentasi. Berapa politik perempuan yang terlibat korupsi dengan politik
laki-laki yang terlibat korupsi. Pastinya kan lebih banyak laki-laki. Padahal diberbagai
pertemuan aktifis perempuan kita selalu mendeklarasikan “No Money” politik.
Menyambut
hari Kartini. Apakah peran perempuan sudah relevan terhadap perubahan sosial
sekarang ini? Terus apa harapannya?
Satu harus bisa
menjadi dirinya sendiri untuk mewujudkan yang terbaik bagi dirinya sendiri.
Dengan berbagai macam cara. Dengan meng-upgrade atau meng-update pengetahuan
yang ia punya. Serta menjaga culture yang ada. Tetaplah menjadi perempuan yang
biasa. Dan tetep mengedepankan kepedulian mengenai hal anak dan perempuan itu
sendiri. Sehingga mimpi para pejuang wanita dulunya bisa menjadi terwujud.
Terus
yang terakhir. Apa pesan-pesan buat mahasiswa-mahasiswi sekarang ini, untuk
menyikapi problema realitas sekarang ini?
Untuk mahasiswi
di kampus. Kita harus bisa membangun jati diri yang kita miliki. Mumpung masih
ada di Jogja, manfaatkan lah diri kalian untuk sebaik mungkin. Punyalah mimpi
untuk meraih kesuksesan. Walaupun anda sepintar apapun teruslah saling
menghormati antar manusia.
Untuk
mahasiswanya. Jadilah laki-laki yang baru. Jadilah lak-laki yang ideal. Yang
bisa menjunjung nila-nilai perempuan dan menghormati perempuan dengan baik.
[fian]
Di
muat di BUKIT Edisi #7
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Berita
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.













0 comments: