Wednesday, 7 May 2014
Slamet Marah!!!
Slamet Marah!!!
Suara adzan maghrib menggema di
pinggir lereng pegunungan Slamet. Bersamaan penutupan senja yang begitu indah
sore harinya. Angin-angin berhembus membangkit rasa kepercayaan diri. Suara
jangkring mulai berdatangan. Semakin menegaskan ciptaan sang Kuasa tak bisa
terkalahkan.
Slamet bergegas meninggalkan gubuk
kediamannya. Untuk berangkat menjalankan rukun islam kedua secara berjamaah di
masjid. Di sana nampak sudah ada orang yang hendak sholat berjamaah. Nampak
orang yang sedang wudlu, sedang dzikir di dalam masjid. Dan akhirnya iqomah
berkumandang. Sholat berjamah di laksanakan.
Sehabis sholat Slamet duduk di teras
masjid. Sambil melihat pemandangan luar yang selalu dibisingkan suara jangkring
yang asik mengerik. Lalu Slamet berkata sambil melihat langit..
“Ya
Tuhan sunggah indah ciptaan-Mu di langit sana mala ini, bintang dan bulan kau
beri cahaya yang tak kalah kalah dari sinar matahari, sayupu-sayup malam tak
akan sempurna tanpa adanya bintang dan bulan, angin malam akan menjadi luka
tanpa adanya bintang dan bulan” tuturnya sendirian.
Lalu Kyai Sudrun menghampiri Slamet
yang duduk di teras masjid.
“Kok belum pulang kamu met?” kata
Kyai Sudrun
“Belum kyai, saya mau sekalian
nunggu Isya” sambil senyum
“Berarti kamu yang adzan sekalian
nanti, mumpung kamu masih di sini” tutur Kyai Sudrun
“Baiklah Kyai, tapi saya mau nanya
sama Kyai?” ungkap Slamet lirih
“Mau nanya apa met” tutur Kyai
“Saya heran Kyai, orang-orang di
sini itu maunya apa? Dia telah diberi nikmat oleh Allah, diberi tanah luas,
sawah dan ladang di mana-mana. Dengan pemandangan di kaki Gunung Slamet yang
begitu elok dan indah. Tapi kenapa meraka selalu bermaksiat dan jarang
beribadah?” ungkap Slamet kesal.
“Ya itu tugas kamu sebagai orang
muda untuk meyakini dan menyadarkan mereka-mereka itu!! Kalau kau tak bisa,
Allah lah yang akan turun tangan nantinya?” tutur Kyai kalem
“Maksutnya Kyai?” ungkap Slamet
bengong
“Sudah sana Adzan, pastinya kamu
akan tahu jawabannya sendiri” tutur Kyai halus
Lalu Slamet adzan. Dilanjut sholat
berjamaah bersama meski yang datang untuk sholat berjamaah hanya delapan orang
saja.
***
Esok harinya Slamet melakukan
aktifitas seperti biasa. Mencangkul di sawah kemudian memberikan makan pada
kambing-kambingnya. Lalu berteduh di bawah pohon sambil beristirahat.
“Duhhh, enak tenan urip neng kene.
Meski dadi wong miskin tapi urip kro alam iki ora miskin” celotehnya sendirian
“alam-alam ini diciptakan kepada
manusia untuk dijaga, dirawat dan dinikmati. Gunung diciptakan untuk bumi ini
biar tidak bergoyang dan tidak datar. Dan gunung ini juga bisa menggoyangkan
manusia” imbuhnya pelan sambil melihat pemandangan Gunung Slamet
Teriak siang Lereng Gunung Slamet
telah membasuhi tubuh Slamet. Lapar dan haus menyelimuti rongga-rongga
tubuhnya. Dengan menggandeng satu kambingnya. Tak khayal ia langsung saja
bergegas kembali ke gubuk pendiamannya. Angin-angin sawah berteriah lirih
kepadanya. Namun ia tetap terus berjalan bersama kambingnya. Dedaunan gugur
dihembus angin. Namun naluri Slamet tak bisa gugur dihembus angin. Hidup
sendirian di lereng Gunung Slamet. Kian menjadikan ia menjadi manusia yang
tangguh.
Suara Adzan telah terdengar dari
kejauhan. Terik sinar matahari masih bengit menyengat tuhub Slamet. Saat
menyesuri jalan. Terlihat ada beberapa
warga yang sedang berkumpul. Astaghfirullah, kita didatangi mereka sedang asik
main judi sambil minum-minuman keras.
“Mari bapak-bapak, kita ke masjid
sholat dhuhur!” ajak Slamet
“Sudah sanau kamu minggat dari sini,
orang semacam kamu tak pantas menyuruh saya” ungkap lantang salah satunya.
“Bapak-bapak tak baik berbuat
maksiat ketika waktu adzan, dan siang-siang gini, apalagi di lereng Gunung
sini” lirih Slamet.
“Wehh anak muda jelek, tolol,
miskin. Disini ialah wilayah bebas, semua orang bebas melakukan apa saja. Sana
pergi atau akan aku hajar kamu..!” sentak Bapak itu.
Perkataan Bapak itu hanya membikin
Slamet kesal. Dan melukai hati Slamet. “Tuhan, apa aku tak pantas untuk
mengajak orang untuk berbuat kebaikan. Karena orang tuaku dulu sering berbuat
maksiat. Tuhan, apa aku tak pantas mendapat berkah dari-Mu?”
Slamet berjalan kea rah masjid
sambil risau. Tiba terdengar ada letusan kecil dari atas Gunung Slamet. Semua
orang panik. Dan berlarian ke arah masjid. Nampak orang keluar dari rumahnya.
Anak-anak kecil nampak cemas. Orang-orang tua nampak panik. Mendengar letusan
Gunung Slamet.
Mendengar gemuruh Gunung Slamet.
Lalu Slamet menatap ke arah Gunung Slamet. Nampak Gunung Slamet mengeluarkan
abu tipis dari atasnya. Kemudian ia teringat kata Kyai Sudrun malam itu. “Kalau
kau tidak bisa mengajak orang berbuat baik, maka Tuhan akan turun tangan”. Apa
ini tanda Tuhan turun tangan. Menegur orang-orang maksiat dengan letusan
Gunung. Sunngu kuasa-Nya tak bisa dibandingkan dengan lainnya.
Ketika Slamet ingin marah. Gunung
Slamet pun lebih marah. Alam memang mencintai orang-orang yang merawatnya. Alam
memang cinta kasih anugrah pada hambanya. Masjidpun nampak riuh dhuhur itu. Dan
warga berjamaah bersama. Di tengah hembusan abu Gunung Slamet.
******
8 Mei 2014
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.













0 comments: