Download this Blogger Template by Clicking Here!

Ad 468 X 60

Wednesday, 7 May 2014

Widgets

Slamet Marah!!!

Slamet Marah!!!

            Suara adzan maghrib menggema di pinggir lereng pegunungan Slamet. Bersamaan penutupan senja yang begitu indah sore harinya. Angin-angin berhembus membangkit rasa kepercayaan diri. Suara jangkring mulai berdatangan. Semakin menegaskan ciptaan sang Kuasa tak bisa terkalahkan.
            Slamet bergegas meninggalkan gubuk kediamannya. Untuk berangkat menjalankan rukun islam kedua secara berjamaah di masjid. Di sana nampak sudah ada orang yang hendak sholat berjamaah. Nampak orang yang sedang wudlu, sedang dzikir di dalam masjid. Dan akhirnya iqomah berkumandang. Sholat berjamah di laksanakan.
            Sehabis sholat Slamet duduk di teras masjid. Sambil melihat pemandangan luar yang selalu dibisingkan suara jangkring yang asik mengerik. Lalu Slamet berkata sambil melihat langit..
            “Ya Tuhan sunggah indah ciptaan-Mu di langit sana mala ini, bintang dan bulan kau beri cahaya yang tak kalah kalah dari sinar matahari, sayupu-sayup malam tak akan sempurna tanpa adanya bintang dan bulan, angin malam akan menjadi luka tanpa adanya bintang dan bulan” tuturnya sendirian.
            Lalu Kyai Sudrun menghampiri Slamet yang duduk di teras masjid.
            “Kok belum pulang kamu met?” kata Kyai Sudrun
            “Belum kyai, saya mau sekalian nunggu Isya” sambil senyum
            “Berarti kamu yang adzan sekalian nanti, mumpung kamu masih di sini” tutur Kyai Sudrun
            “Baiklah Kyai, tapi saya mau nanya sama Kyai?” ungkap Slamet lirih
            “Mau nanya apa met” tutur Kyai
            “Saya heran Kyai, orang-orang di sini itu maunya apa? Dia telah diberi nikmat oleh Allah, diberi tanah luas, sawah dan ladang di mana-mana. Dengan pemandangan di kaki Gunung Slamet yang begitu elok dan indah. Tapi kenapa meraka selalu bermaksiat dan jarang beribadah?” ungkap Slamet kesal.
            “Ya itu tugas kamu sebagai orang muda untuk meyakini dan menyadarkan mereka-mereka itu!! Kalau kau tak bisa, Allah lah yang akan turun tangan nantinya?” tutur Kyai kalem
            “Maksutnya Kyai?” ungkap Slamet bengong
            “Sudah sana Adzan, pastinya kamu akan tahu jawabannya sendiri” tutur Kyai halus
            Lalu Slamet adzan. Dilanjut sholat berjamaah bersama meski yang datang untuk sholat berjamaah hanya delapan orang saja.
***
            Esok harinya Slamet melakukan aktifitas seperti biasa. Mencangkul di sawah kemudian memberikan makan pada kambing-kambingnya. Lalu berteduh di bawah pohon sambil beristirahat.
            “Duhhh, enak tenan urip neng kene. Meski dadi wong miskin tapi urip kro alam iki ora miskin” celotehnya sendirian
            “alam-alam ini diciptakan kepada manusia untuk dijaga, dirawat dan dinikmati. Gunung diciptakan untuk bumi ini biar tidak bergoyang dan tidak datar. Dan gunung ini juga bisa menggoyangkan manusia” imbuhnya pelan sambil melihat pemandangan Gunung Slamet
            Teriak siang Lereng Gunung Slamet telah membasuhi tubuh Slamet. Lapar dan haus menyelimuti rongga-rongga tubuhnya. Dengan menggandeng satu kambingnya. Tak khayal ia langsung saja bergegas kembali ke gubuk pendiamannya. Angin-angin sawah berteriah lirih kepadanya. Namun ia tetap terus berjalan bersama kambingnya. Dedaunan gugur dihembus angin. Namun naluri Slamet tak bisa gugur dihembus angin. Hidup sendirian di lereng Gunung Slamet. Kian menjadikan ia menjadi manusia yang tangguh.
            Suara Adzan telah terdengar dari kejauhan. Terik sinar matahari masih bengit menyengat tuhub Slamet. Saat menyesuri jalan. Terlihat  ada beberapa warga yang sedang berkumpul. Astaghfirullah, kita didatangi mereka sedang asik main judi sambil minum-minuman keras.
            “Mari bapak-bapak, kita ke masjid sholat dhuhur!” ajak Slamet
            “Sudah sanau kamu minggat dari sini, orang semacam kamu tak pantas menyuruh saya” ungkap lantang salah satunya.
            “Bapak-bapak tak baik berbuat maksiat ketika waktu adzan, dan siang-siang gini, apalagi di lereng Gunung sini” lirih Slamet.
            “Wehh anak muda jelek, tolol, miskin. Disini ialah wilayah bebas, semua orang bebas melakukan apa saja. Sana pergi atau akan aku hajar kamu..!” sentak Bapak itu.
            Perkataan Bapak itu hanya membikin Slamet kesal. Dan melukai hati Slamet. “Tuhan, apa aku tak pantas untuk mengajak orang untuk berbuat kebaikan. Karena orang tuaku dulu sering berbuat maksiat. Tuhan, apa aku tak pantas mendapat berkah dari-Mu?”
            Slamet berjalan kea rah masjid sambil risau. Tiba terdengar ada letusan kecil dari atas Gunung Slamet. Semua orang panik. Dan berlarian ke arah masjid. Nampak orang keluar dari rumahnya. Anak-anak kecil nampak cemas. Orang-orang tua nampak panik. Mendengar letusan Gunung Slamet.
            Mendengar gemuruh Gunung Slamet. Lalu Slamet menatap ke arah Gunung Slamet. Nampak Gunung Slamet mengeluarkan abu tipis dari atasnya. Kemudian ia teringat kata Kyai Sudrun malam itu. “Kalau kau tidak bisa mengajak orang berbuat baik, maka Tuhan akan turun tangan”. Apa ini tanda Tuhan turun tangan. Menegur orang-orang maksiat dengan letusan Gunung. Sunngu kuasa-Nya tak bisa dibandingkan dengan lainnya.
            Ketika Slamet ingin marah. Gunung Slamet pun lebih marah. Alam memang mencintai orang-orang yang merawatnya. Alam memang cinta kasih anugrah pada hambanya. Masjidpun nampak riuh dhuhur itu. Dan warga berjamaah bersama. Di tengah hembusan abu Gunung Slamet.
******


8 Mei 2014

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

0 comments:

Powered by Blogger.