Wednesday, 7 May 2014
GIE, Sang Idealis Sejati
GIE, Sang Idealis Sejati
Film
Gie yang mengambil setting antara tahun 1956-1969 ini menceritakan tentang
kisah hidup Soe Hok Gie, pemuda Indonesia keturunan Cina yang aktif menetang
kesewang-wenangan penguasa melalui tulisan-tulisannya. Sejak kecil, Gie
memiliki kepekaan sosial dan budaya yang melampui teman sebayanya.
Ketertarikannya pada sastra dan bacaan membuatnya secara alamiah untuk terus
menulis, mencatat apa yang terjadi di sekelilingnya dan Gie melihat segala yang
terjadi secara kritis dan berpihak kepada rakyat-rakyat yang tertindas.
Saat
duduk di bangku SMA, Gie bahkan berani mengatakan kepada gurunya bahwa “Kita
seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani
menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah”. Hal ini tentu sangat
‘berani’ dalam kondisi yang serba tidak menentu pada saat itu. Keberanian Gie
tersebut makin menjadi setelah dia menjadi mahasiswa fakultas sastra UI. Di
sana pikirannya semakin terasah dan di sana pulalah Gie menemukan
sahabat-sahabat yang memiliki minat yang sama sepertinya, gunung dan film.
Pada
saat itu semangat revolusi yang didengung-dengungkan justru membuat situasi
memanas. Dalam lingkup UI saja, bermunculan organisasi-organisasi yang
terbentuk karena kepentingan agama dan golongan, seperti PMKRI dan HMI. Gie
yang seorang katholik, diajak bergabung ke PMKRI oleh temannya, Jaka. Namun,
gie menolak. Dia merasa bahwa politik yang membawa kepentingan agama dan
golongan bukanlah jalan untuk membawa perubahan hidup bangsa Indonesia.
Alih-alih
terlibat organisasi, Gie lebih memilih untuk diskusi dan menulis dalam melawan
kelaliman penguasa. Kekritisan GIe dalam mengkritik pemerintah, disadari oleh
seorang aktivis gerakan yang bernama Ben. Gerakan yang diikuti Ben tersebut
dipimpin oleh Sumitro yang memiliki ide-ide yang sama dengan Gie. Ben pun
mengajak Gie untuk bergabung dalam gerakan ini dan menulis utnuk pamflet
gerakan tersebut yang disebarkan secara underground.
Salah
satu usaha Gie yang lain adalah ikut dalam senat. Latar belakang keaktifan Gie
semula ketika dia melihat para calon ketua senat yang berasal dari
oraganisasi-oraganisasi yang membawa kepentingan golongan dan agama. Gie tidak
ingin senat dikuasai oleh orang semacam itu. Gie lalu mengajukan Herman,
sahabatnya, sebagai calon ketua. Gie melihat bahwa Herman tidak membawa
kepentingan agama dan golongan manapun dan inilah yang akan menjadi
kelebihannya.
Pada
30 September 1965, terjadilah penculikan para jendral Angkatan Darat. Sejak
saat itu ketegangan semakin meningkat. Hingga akhirnya harga-harga melambung
tinggi. Dalam pandangan GIe, ini sesungguhnya adalah taktik pemerintah untuk
mengalihkan perhatian rakyat dari penumpasan komunis.
Mahasiswa
UI saat itu bersatu, mereka berusaha meminta hak-hak rakyat dengan cara berdemo
secara besara-besaran. Mahasiswa ini mengajukan tiga tuntutan kepada pemerintah
yang dikenal sebai tritura. Tuntutan mahasiswa ini hingga Februari 1966 belum
terpenuhi, bahkaan Presiden sendiri menegaskan bahwa tidak akan membubarkan
PKI.
Mahasiswa
berdemo lagi. Keadaan di masyarakat semakin kacau. Baru pada tanggal 11 MAret
1966, Supersemar seolah menjadi jawaban atas keadaan saat itu. Soekarno
menyerahakan mandatnya kepada panglima angkatan darat Soeharto. Saat itulah
sesungguhnya militer yang sebelumnya bersitegang dengan PKI mendapat kekuasaan.
Para anggota PKI
pun diburu, ditangkap, disiksa dan dibantai. Gie yang bukan ‘kiri’ atau ‘kanan’
tersentil rasa sosialnya untuk menulis kesewenang-wenangan dan kebiadaban orde
baru.
Jalan
film ini selanjutnya memaparkan keberanian untuk terus mengkritik hingga sampai
pada satu titik Gie merasa ‘lelah’ dan terus mendapat reaksi keras dari
orang-orang yang merasa terusik atas ulah Gie. Film ini pun diakhiri dengan
ending yang abu-abu. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Tidak bahagia sebab tentu
karena Gie mati muda pada bulan Desember 1969. Tidak sedih sebab pada dasarnya
Gie merasa beruntung. Sebelumnya Gie pernah mengatakan bahwa nasib baik adalah
tidak dilahirkan dan mati muda. Gie meninggal dalam usia 27 tahun di Gunung
Semeru dalam pangkuan sahabatnya, Herman Latang.
Rekam
sejarah
Gie
adalah tokoh yang sangat kritis menilai politik dan keadaan sosial masyarakat.
Film Gie ini sendiri menjadi film yang memutar ulang sejarah dengan sudut yang
berbeda dari buku-buku teks yang selama ini kita baca, terutama buku teks
pelajaran.
Bagaimana
sesungguhnya pergolakan politik yang terjadi disampaikan melalui pemikiran-pemikiran
Gie, siaran radio, berita dan lainnya. Sutradara dan penulis naskah Gie
berhasil membawa dimensi pikiran Gie kepada para penontonnya tanpa terkesan
menggurui, meskipun sedikit berat. Narasi-narasi Gie maupun dialognya memang
bukan dialog ringan melainkan dialaog yang sarat makna.
Cara
Gie memaknai revolusi, kebenciannya kepada para penguasa yang memasung
demokrasi, kepekaannya dan rasa sosialnya yang tinggi, kegeramannya terhadap
orde lama yang korup dan berkuasa secara absolute juga orde baru yang bertindak
sewenang-wenang, sedikit banyak akan berpengaruh kepada para penonton yang
masih mau berpikir dan peduli terhadap bangsa. Pandangan kita mengenai sejarah
yang semula hanya benar di satu sisi dan salah besar di sisi lain ( sesuai
penjelasan teks-teks buku pelajaran kuno) menjadi terbagi adil disini. Dalam
sejarah, tak pernah ada pihak yang sepenuhnya salah tak ada yang sepenuhnya
benar. Oleh karena itu, pembantaian manusia tidak pernah bernilai benar.
Gie
sebagai manusia
Film
yang menarik tentu memiliki kisah cinta di dalamnya, begitu juga film ini.
Meskipun tidka menonjol, kisah cinta Gie cukup menarik untuk diamati. Cinta
segitiga antara Gie, Ira dan Ita. Gie dan Ira yang saling menyukai namun
sama-sama canggung dan Ita gadis yang akhirnya menjadi pacar Gie. Cerita cinta
mereka agak pilu, sebab ketiganya tidak mendapatkan cinta mereka masing-masing.
Sisi kemanusian
Gie yang lain adalah kesalahan. Gie remaja tidak begitu akrab dengan kakaknya,
Arif Budiman. Selain itu, Gie juga tidak begitu peduli dengan keluarganya meski
sesungguhnya Gie menyayangi mereka. Gie juga mudah marah, tampak dalam beberapa
adegan. Meski terlihat santai, gerak tubuhnya jelas menandakan dia larut
terbawa emosi.
Gie
Sebagai
sebuah film, Gie berhasil menjadi film mengagumkan dalam segi artistic dan
moral. Film ini meyuguhkan gambar-gambar kota Jakarta yang masih ‘segar’ dan
pemandangan gunung. Dari segi tata music, film ini sangat hidup dengan
lagu-lagu yang sangat mendukung. Seperti back song saat Gie berdemo mampu
membawa atmosfer dan semangat pemuda ke dalam benak dan membuat merinding. Juga
lagu-lagu dan music yang tergolong ‘cerdas’.
Film
ini juga sarat pesan. Kita bisa mengambil pesan dari buah pikiran Gie sepanjang
film ini, jika sikap dan keteguhan hatinya. Film ini memang tergolong film yang
berhasil bercerita kepada para penontonnya dan sangat layak untuk ditonton juag
mungkin menjadi salah satu film Indonesia yang sangat membanggakan dan akan
terus dikenang.
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Essai
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.













0 comments: