Monday, 28 October 2013
Refleksi G30S-PKI dan Jendela Politik 2014
Sudah 68 tahun
bangsa ini merdeka. Namun di perjalanan semua itu selalu menimbulkan cerita,
luka maupun duka. Mulai dulunya harus berhadapan penjajah yang hampir ratusan
tahun menyelemitu kelamnya sejarah bangsa ini. Tahun 1945 kian menjadi tonggak
sejarah baru bagi bangsa yang ber-asas Bhineka Tunggal Ika. Mulai dari perang
sampai pergulatan politik yang sungguh di luar kesadaran. Seolah hal itu
menjadi dinamika percaturan politik Negeri ini.
Lantas siapa
dalang di balik penumpasan tragedi G30S-PKI yang hingga sampai sekarang ini
belum terbukti pelakunya?? Sejak peristiwa detik-detik sebelum G30S-PKI. Memang
pertarungan politik di Negeri ini telah mencapai di luar klimaks. Kekuasaan,
persaingan politik dan hasrat saling benci sungguh melekat dalam para elite
politisi bangsa ini. Seolah Indonesia bagaikan lapangan yang berumput kering,
sehingga mudah sekali terbakarnya. Serta hal itu juga di tunjang frontalnya
media massa dalam memberikan informasi, sehingga menimbulkan aksi saling kecam
dan memperpanas suasana.
Hingga datanglah
peristiwa penumpasan itu. Mulai munculik dan membunuh para perwira tinggi
hingga perwira pertama. Serta hampir beberapa bulan, ratusan ribu orang
terbunuh dalam serangkaian peristiwa
ini. Tapi kalau di cermati peristiwa itu, seolah-olah peristiwa itu lahir dari
operasi militer yang sangat tersusun rapid an terencana. Lantas siapa dalang di balik semua itu? Hingga
sampai saat ini, genderang masalah ini belum tuntas mengungkap siapa pelakunya.
Hingga masyarakat saat ini hanya di buat seperti boneka yang kelam dari
peristiwa ini. Lalu apa hubungannya dengan Jendela Politik 2014? Masih
tersisanya orang-orang era Revolusioner dan Orde Baru dalam percaturan politik
kalin ini kian menjadi warna. Ataukah warna itu akan menjadi pelangi? Atau
hanya menjadi Abu?? Gong belum sempat dibunyikan. Tapi para Garuda bertopeng
sudah semakin nyata aroma politisnya. Mereka mengepung NKRI mulai dari barat
hingga timur. Bermodal tangan kanan uang dan tangan kiri media kian menjadikan
Garuda bertopeng itu leluasa.
Dan yang pasti
apapun yang diperbuat oleh Garuda bertopeng yang saat ini. mereka harus
ber-fastabiqul khoirot untuk Indonesia. Harus bisa merubah abu menjadi pelangi.
Meski sosok Garuda Sejati datang terlambat. Namun kedatangannya bukan semerta
di tutupi angin kekuasaan. Melainkan angin perubahan yang baik.
Dulu memang
pergulatan G30S-PKI. Menjadi wajah bangsa ini layu. Dan seharusnya para Garuda
Bertopeng itu harus merefleksikan peristiwa itu. Menjadi acuan subuah progress
yang cerah menjadi sosok Garuda Sejati. Sejauh ini memang Indonesia memang
dalam kondisi akut. Hal itu ditunjuang semakin parahnya korupsi yang hampir
tiap hari ada dan silih berganti. Kalau merubah Indonesia bukan harus dari
luarnya? Atau perubahan dari dalamnya? Perubahan semua harus dari semuanya.
Kalau mayoritas kaum elite politis buta huruf sejarah masa lampau Nusantara
ini. Mesti tak ada ubahnya sama seperti hari ini. mereka hanya bisa berpidato
dan terus mencari uang recehan tanpa mempedulikan rakyat. Rakyat yang menjadi
tonggak bangsa. Kian disempitkan para kaum elit politik yang hanya bisa nyanyi
dan rapat saja. Kalau semacam ini terjadi terus, pepatah jawa mikul duwor mendhem jero mungkin menjadi
asumsi semu. Dan pemerintah yang harusnya mikul rakyat kini hanya bisa mikul
janji yang kelam.
Semoga para elit
politisi sadar akan semua ini. Mereka itu mengabdi untuk rakyat bukan untuk
kepentingan pribadi. Sosok Garuda Sejati kian di tunggu rakyat di 2014 nanti.
Untuk menjadi tonggak kemakmuran rakyat bukan tonggak kesengsaraan rakyat. Dan
Indonesia menjadi damai “rahmatan lil’alamin”
yogya, 30 September 2013
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Essai
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.













0 comments: