Sunday, 16 February 2014
Pergulatan Demokrasi, Jurnalisme, dan Infotainment dalam Industri Televisi
Pergulatan Demokrasi, Jurnalisme, dan Infotainment dalam Industri Televisi
Judul : Rezim Media “Pegulatan Demokrasi, Jurnalisme, dan Infotainment dalam Industri Televisi”
Penulis : Iswandi Syahputra
Penerbit
: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : i + 216
Waktu Terbit : Maret 2013
“pelaku industri penyiaran memberi interpretasi kepentingan publik berdasarkan kepentingan bisnis”
Idealisme media terletak di dalam perannya sebagai pilar demokrasi. Media dianggap berperan menyebarkan nilai kebebasan dan kesetaraan kapada masyarakat, sehingga orang menyadari akan hak-haknya. Harapan masyarakat begitu tinggi terhadap peran media, sehingga orang berharap bahwa media bisa menjadi pelopor budaya yang berkualitas dan memberi informasi yang kredibel. Harapan itu menciptakan idealime dalam masyarakat agar media menjadi sarana pendidikan kritis, mandiri, dengan pemikiran yang dalam. Dengan demikian media mampu meningkatan mutu debat publik dan kematangan politik warga negara.
Rezim media merupakan istilah yang hendak disampaikan untuk menandai berkuasanya media massa saat ini, terutama media penyiaran televisi. Pembahasan aspek sosial, ekonomi, dan politik dalam studi media dirasa sudah tidak lagi memadai untuk menjelaskan kultur media yang sedemikian berdaulat. Dalam konteks yang lebih luas, rezim media ini muncul karena struktur demokrasi politik yang tidak jelas ke mana arahnya dan paham kebebasan media massa juga tidak jelas hendak menuju ke mana.
Buku ini hadir, sebagai lonceng penanda berkuasanya suatu rezim yang kasatmata, diterima sebagai suatu yang normal karena menjanjikan kebebasan. Ditulis dengan berangkat dari kegelisahan yang mendalam terhadap praktik monopoli dan pemutusan kepemilikan sejumlah media oleh sekelompok orang yang juga terlibat dalam berbagai politik di Indonesia. Relasi media sebagai mesin kultural yang dibangun berdasarkan asumsi atau capaian ekonomi dan politik ini semacam varian baru dalam studi media.
Berbagai relasi silang kepentingan ekonomi, politik, dan sosial dalam kehidupan media yang dinamis tersebut menciptakan lingkungan media sebagai rezim yang menantang peran junalisme profesional. Rezim media yang berkuasa atas nama demokrasi tersebut merupakan situasi terkini dari berbagai momen kritis pada masa transisi lanjut kehidupan demokrasi di Indonesia. Rezim media digerakkan oleh perubahan ekonomi, politik, budaya, dan teknologi di mana hubungan antar warga masyarakat, elite politik, dan media telah diadu, dipertentangkan, dan dimanfaatkan dengan baik oleh media.
Buku yang disusun oleh dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, dengan jeli menyatakan bahwa pelaku industri penyiaran memberi interpretasi kepentingan publik berdasarkan kepentingan bisnis. Produk harus menarik diperhatikan, maka iklan harus masuk dalam arus yang spektakuler dan sensasional. Mencari sensasi membuat media cenderung memberitakan hal-hal yang remeh, gosip, krimanalitas, serba-serbi untuk memuaskan pemirsa. Oleh karena itu, media membuat audiens tergantung dan komplusif, sehingga sulit membuat mereka kritis dan refleksif.
Noor Alfian A
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Buku
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.














0 comments: