Tuesday, 11 February 2014
Sempitnya Sastra di Sekolah
Sempitnya
Sastra di Sekolah
oleh : N Alfian A
Sejauh
ini geliat sastra di tanah air telah mengalami kemajuan. Hal itu terbukti bahwa
hampir setiap hari, penerbit menerbitkan novel, antologi puisi, buku bahkan
media cetak yang notabennya ada kolom sastranya. Belum lagi ditambah geliat
komunitas-komunitas diberbagai daerah, yang tiap harinya nguri-nguri sastra,
baca puisi, maupun bermain drama.
Geliat
komunitas dalam nguri-nguri sastra di negeri ini sangat luar biasa. Justru
berbanding terbalik dengan geliat sastra
di sekolah. Sejauh ini anak-anak didik di sekolah belum sepenuhnya tahu
secara mendalam mengenai sastra. Mereka hanya dikenalkan karya sastra yakni
puisi, novel maupun drama. Hal itu disebabkan karena pemerintah belum tahu
betul dengan sastra. Mungkin mereka mengira di dalam mata pelajaran bahasa
Indonesia, anak didik akan tahu sastra. Padahal bahasa dan sastra itu sangat
berbeda. Harusnya sastra di bedakan dalam mata pelajaran di sekolah. Kalau
peserta didik mendapat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, yang sekarang di
bedakan menjadi Fisika, Biologi dan Kimia. Harusnya mata pelajaran mengenai
Kebahasaan di kembangkan menjadi mata pelajaran Bahasa dan Sastra.
Meskipun
keberadaan sastra tidak dapat dipisahkan dari bahasa, tetapi keduanya merupakan
dua hal yang berbeda. Berbeda bentuk, sifat maupun fungsinya. Masing-masing
memiliki otoritas sebagai ilmu, sarana maupun sebagai sebagai produk budaya.
Buktinya, setiap orang mampu berbahasa tetapi belum tentu juga mampu bersastra.
Sempitnya
sastra di sekolah mungkin disebabkan oleh berbagai faktor. Seharusnya pemegang
kebijakan mengenai masalah kurikulum harus tahu akan hal ini. Sudah saatnya progress pengambangan sastra di sekolah
diterapkan dengan baik. Mulai mengenal teori sedikit demi sedikit, mengenalkan
model karya sastra, bahkan sampai analisnya. Dan hal itu harus ditunjang dengan
pengajar yang berkompeten akan hal ini. Karena hampir kebanyakan guru pengampu
bahasa Indonesia kurang tahu betul mengenai sastra.
Sudah
seharusnya guru bahasa di sekolah yang memegang arus tonggak sastra di sekolah.
Memberi contoh pada siswa-siswa untuk bersastra dengan baik. Membaca dan menulis karya sastra.
Syukur-syukur sang guru membuktikan dengan karya sastranya yang diterbitkan di
media massa, atau bahkan diterbitkan penerbit. Member informasi perkembangan
sastra secara mendalam. Sehingga siswa tertarik belajar sastra dengan baik.
Guru
sastra/bahasa harus mampu menunjukkan proses kreatif dalam menciptakan karya
sastra, memberi contoh dengen menulis atau membaca puisi dengan baik,
menuangkan ide cerita untuk diproses menjadi karya yang menawan. Serta bisa
menghidupkan suasana kelas dengan sungguhan karya yang bikin siswa
seolah-seolah menikmati sastra di panggung teater. Itulah seharusnya peran guru
bahasa menjadi sastrawan di sekolah.
Melihat
persoalan negeri yang hari masih kacau bahkan sudah mengalami masa
pesakitannya. Korupsi hampir setiap hari tersaji dalam media massa. Sudah
saatnya sastra akan menjadi solusi yang baik. Ketika kondisi bangsa mulai kacau
hanya karena rotorika murahan. Kembali pada naskah-naskah sastra merupakan
langkah alternatif. Karena didalam naskah-naskah kita akan berjumpa dengan
makna dan ingin mencari tahu artinya. Maka dari itu sastralah jawabannya.
Kita
bisa membaca sebuah realitas kalau kita mengerti maksud dan maknanya. Kalau ada
sebuah penduduk atau bangsa yang tidak tahu akan makna itu sendiri, berarti
bukan mustahil itulah yang dimaksud “bangsa tanpa sastra”.
Maka
dari itu, kalau sastra hanya dikategorikan hanya sebuah karya (puisi, novel,
drama) tanpa mengenal maknanya, itu sama halnya belajar tanpa buku. Seorang
hanya bisa berucap tanpa mengerti maksut apa itu maknanya. Sungguh ironis kalau
remaja sekarang tidak tahu sastra. Mereka akan hanya bisa beretorika tanpa
mengerti apa yang dimaksudnya.
Penyempitan-penyempitan
sastra di ruang sekolah harus segera di atasi. Melihat perkembangan global yang
luar biasa. Bukan mesti menghilangkan rasa sastra itu sendiri. Malahan itu akan
menunjang sarana untuk mengekplorasi sastra dengan baik. Hampir di tiap
internet, kita akan tahu kaedah-kaedah sastra, penelitian-penelitian mengenai
sastra beserta analisisnya, bahkan
menengok geliat komunitas sastra di internet bukan hal susah.
Sudah
seharusnya sastra tersalurkan dengan baik di sekolah. Siswa-siswi membaca,
menulis, bahkan main drama dengan baik. Tanpa meninggalkan esensi sastra itu
sendiri. Ketika siswa sudah suka dalam dunia sastra, bukan mustahil lagi kalau
siswa akan suka membaca dan menulis. Karena sastra akan selalu berkaitan dengan
hal itu. Dengan membaca kita tahu makna, dan dengan menulis kita berkata.
Yogyakarta,
9 Februari 2014, 23.12 WIB.
Noor
Alfian Asslam
dimuat di koranmuria.com, 11 februari 2014
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →
Related Posts:
Essai
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Powered by Blogger.














0 comments: